Baterai Natrium-Ion
Tak berhenti di sana, CATL juga menggebrak industri dengan teknologi baterai natrium-ion atau "baterai garam"—solusi alternatif yang lebih ramah lingkungan dan bebas dari ketergantungan terhadap bahan baku seperti litium, kobalt, dan nikel.
Baterai ini sudah diterapkan secara massal oleh produsen GS Motors (di bawah naungan Volkswagen Group) dalam model JAC EV, yang diperkenalkan di ajang Shanghai Auto Show. Dengan kapasitas 25 kWh, mobil ini memiliki daya jangkau sekitar 252 km dan konsumsi energi 10 kWh per 100 km. Pengisian daya dari 10% ke 80% hanya memakan waktu 20 menit.
Kelebihan baterai natrium-ion antara lain:
-
Harga lebih murah dibanding litium,
-
Proses produksi yang lebih bersih dan cepat,
-
Risiko kebakaran yang lebih rendah,
-
Kemudahan daur ulang karena tidak menggunakan logam berat.
Keberhasilan Tiongkok dalam teknologi baterai terbaru ini diperkirakan akan mengubah peta industri otomotif dan bahan tambang dunia. Negara-negara seperti Indonesia—yang selama ini menjadi eksportir utama nikel—dan Jepang—yang fokus pada mobil hidrogen—dihadapkan pada tantangan baru di tengah perubahan tren energi global menuju teknologi lebih hijau dan murah.
Dengan segala inovasi ini, Tiongkok bukan lagi sekadar pemain dalam industri kendaraan listrik global, melainkan telah mengambil peran sebagai pemimpin teknologi otomotif masa depan. (*)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.