Sebelumnya, Ketua Panitia Peresmian Monumen Raja Sang Naualuh Damanik, Pandapotan Damanik dalam laporannya mengatakan seluruh masyarakat Kota Pematangsiantar telah menunggu peresmian monumen tersebut.
“Setelah sekian lama akhirnya direalisasikan dan diresmikan,” tukasnya.
Kemudian, sambung Pandapotan, agar bersama-sama memperjuangkan Raja Sang Naualuh Damanik menjadi Pahlawan Nasional. Selain itu, ia berharap Jalan Asahan diganti menjadi Jalan Sang Naualuh Damanik.
“Di sini dulu Raja Sang Naualuh menunggu sebelum diberangkatkan ke Bengkalis,” tambahnya.
Ketua Ihutan Bolon Damanik Ir Panner Damanik menambahkan, keberadaan monument tersebut salah satunya untuk mendukung agar Raja Sang Naualuh Damanik diangkat menjadi Pahlawan Nasional.
“Sudah ada stadion, monumen, dan nama jalan,” ujarnya.
“Kami sempat sedih karena lokasi Pembangunan monumen sempat berpindah. Namun akhirnya kembali ke sini. Karena mungkin Oppung Sang Naualuh Damanik memang maunya di sini. Terima kasih kepada Pemerintah Kota Pematangsiantar yang sudah berperan membangun monumen ini,” katanya.
Panner mengakui, pihaknya tidak sanggup merawat monumen tersebut. Sehingga ia memohon agar perawatan monumen diserahkan ke Pemko Pematangsiantar.
“Kami juga mohon bantuan kepada DPRD Kota Pematangsiantar,” pintanya.
“Raja Sang Naualuh Damanik harus menjadi Pahlawan Nasional. Mohon dukungan semuanya,” lanjutnya.
Ketua Yayasan Raja Sang Naualuh Damanik, Evra Sassky Damanik SSos mengucapkan terima kasih karena pihaknya diberi kepercayaan oleh Pemko Pematangsiantar untuk membangun monument tersebut.
Evra berharap Jalan Asahan yang menjadi wilayah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simalungun agar diganti menjadi Jalan Sang Naualuh Damanik.
Dalam acara tersebut juga dibacakan Riwayat Perjuangan Raja Sang Naualuh Damanik oleh Prof Hisarma Saragih MHum. Sedangkan arsitek Hotman Damanik ST memaparkan setiap bagian dari monumen tersebut, antara lain pagar, landasan, pijakan, pilar, dan patung Raja Sang Naualuh Damanik itu sendiri.
“Di patung tersebut, tangan Raja Sang Naualuh Damanik mengangkat, yang bermakna mengayomi. Posisi monumen di sini, karena Raja Sang Naualuh terakhir menginjak kaki di Siantar adalah di sini,” terangnya.
Hotman berharap monumen tersebut menjadi landmark Kota Pematangsiantar dan cagar budaya karena memiliki nilai historis.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.