Fasilitasnya lengkap. Mulai dari tempat istirahat, kamar mandi, air minum, makanan ringan, hingga pengisian daya gawai. Semua disediakan demi kenyamanan mereka yang singgah.
Harapannya sederhana: agar para pemudik merasa aman dan diterima.
Lebih dari sekadar fasilitas, yang dihadirkan adalah rasa hangat. Masjid menjadi ruang terbuka, tanpa sekat. Siapa pun boleh datang, tanpa perlu menjelaskan asal-usulnya.
Setelah cukup beristirahat, Pak Edi kembali berdiri. Ia menggenggam gagang gerobaknya, memastikan semuanya siap.
Perjalanan masih panjang. Namun langkahnya kini terasa lebih ringan. Bukan karena jaraknya berkurang, melainkan karena tenaganya telah pulih. Semangatnya kembali terisi.
Gerobak siomay itu pun bergerak lagi—perlahan, tapi pasti. Dan di tengah perjalanan yang melelahkan itu, Masjid Daarunnajaa menjelma oase kecil. Tempat lelah berlabuh, sebelum rindu kembali melangkah menuju rumah. (A18)
Sumber: Situs Kemenag
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.