Tak ketinggalan, band asal Yogyakarta, Majelis Lidah Berduri, menyatakan mundur karena menilai Spotify mendukung genosida Palestina, berinvestasi dalam teknologi perang, dan menormalisasi sistem ekonomi yang merugikan pekerja seni.
Penyanyi independen Frau menambahkan, keputusan Ek memperbesar investasi di perusahaan AI militer menjadi titik balik.
"Ironis, seseorang yang membangun platform musik malah ikut menyumbang ke teknologi perang," tulisnya di Instagram.
Ia menyebut konflik global seperti di Ukraina, Palestina, Papua Barat, dan Sudan membuka mata publik terhadap kebijakan korporasi yang tidak manusiawi.
Aksi serupa juga dilakukan oleh band eksperimental Morgensoll. Mereka telah menghapus semua rilisan dari platform streaming digital, dan merilis versi remastered album ETERNAL secara gratis di Bandcamp sebagai bentuk apresiasi kepada penggemar.
Begitu pula Xiu Xiu, yang masih dalam proses menghapus seluruh karya mereka dan mendorong penggemar untuk membatalkan langganan Spotify.
Gelombang mundurnya musisi dunia ini menegaskan satu hal, banyak seniman menolak musik mereka dijadikan sumber dana bagi industri militer. Dan mereka bersatu, dari Amerika, Eropa, Australia, hingga Indonesia, untuk menegakkan prinsip kemanusiaan di atas keuntungan. [zainal/a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.