MENU
Muslimin Akbar: Puasa Bukan Sekadar Lapar, Tapi Membentuk Takwa
WA FB
Religi

Muslimin Akbar: Puasa Bukan Sekadar Lapar, Tapi Membentuk Takwa

J Editor : Jansen Siahaan | 20 Feb 2026 | 14:40 WIB
Muslimin Akbar: Puasa Bukan Sekadar Lapar, Tapi Membentuk Takwa
H Muslimin Akbar. (istimewa)

Pematangsiantar, Sinata.id – Menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H, tokoh masyarakat sekaligus dai di Kota Pematangsiantar, H. Muslimin Akbar, mengajak umat Islam untuk memaknai ibadah puasa secara lebih mendalam.

Menurutnya, puasa bukan sekadar rutinitas menahan lapar dan haus, melainkan proses pembentukan karakter serta pembersihan jiwa.

Dalam tausiyahnya pada Jumat (20/2/2026), ia menyampaikan bahwa puasa memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Ia mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183 yang menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa.

“Puasa adalah ibadah yang melatih kita menahan diri, bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari perkataan dusta, pandangan yang tidak terjaga, serta perilaku yang tidak baik. Inilah esensi puasa yang sesungguhnya,” ujarnya.

Muslimin Akbar menjelaskan sejumlah langkah agar ibadah puasa yang dijalankan benar-benar berkualitas dan tidak sekadar menggugurkan kewajiban.

Pertama, meluruskan niat semata-mata karena Allah SWT. Keikhlasan menjadi fondasi utama agar setiap amal ibadah bernilai di sisi-Nya.

“Jangan berpuasa karena kebiasaan atau ingin dipuji. Luruskan niat hanya karena Allah,” tegasnya.

Kedua, menjaga shalat dan ibadah wajib. Ia mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada semangat menahan lapar, tetapi lalai menjalankan shalat lima waktu.

Ketiga, memperbanyak membaca dan mentadabburi Al-Qur’an. Menurutnya, Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, sehingga memperbanyak tilawah dan memahami maknanya akan mendekatkan hati kepada Allah SWT.

Keempat, menjaga lisan dan perilaku. Ia mengingatkan sabda Rasulullah SAW bahwa Allah SWT tidak membutuhkan lapar dan haus seseorang apabila ia tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk.

Kelima, mengatur pola makan dan istirahat. Sahur dengan makanan bergizi, berbuka secukupnya, serta menjaga waktu istirahat penting agar tubuh tetap prima dalam beribadah.

Keenam, memperbanyak sedekah dan berbagi kepada sesama. Menurutnya, rasa lapar yang dirasakan selama puasa dapat menumbuhkan empati terhadap kaum dhuafa sehingga ibadah menjadi lebih sempurna dengan kepedulian sosial.

Ia menegaskan, puasa sejatinya merupakan sarana pendidikan ruhani untuk membentuk pribadi yang sabar, berempati, serta memiliki pengendalian diri yang kuat.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.