MENU
Negosiasi Nuklir AS–Iran Masih Buntu, Putaran Krusial Digelar di Jenew...
WA FB
Berita

Negosiasi Nuklir AS–Iran Masih Buntu, Putaran Krusial Digelar di Jenewa 26 Februari

R Editor : Redaksi Sinata | 23 Feb 2026 | 20:17 WIB
Negosiasi Nuklir AS–Iran Masih Buntu, Putaran Krusial Digelar di Jenewa 26 Februari
Iran menyatakan siap melancarkan balasan keras terhadap Amerika Serikat dan Israel setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. (Ist)

Jenewa, Sinata.id — Diplomat dunia kini menyorot tajam kelanjutan pembicaraan nuklir yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, setelah kedua negara sepakat kembali duduk di meja perundingan di Jenewa, Swiss, pada Kamis, 26 Februari 2026, mendatang

Negosiasi ini berlangsung di tengah ketegangan yang memanas dan penempatan pasukan militer besar oleh Washington di Timur Tengah, meningkatkan kekhawatiran global akan eskalasi konflik berskala luas.

Perundingan yang dimediasi oleh Kerajaan Oman ini merupakan babak ketiga sejak awal putaran diplomasi, di mana kedua pihak belum berhasil mencetak terobosan konkret terkait program nuklir Iran. Oman mengaku optimistis setelah putaran sebelumnya, meski perbedaan pandangan antara Washington dan Teheran masih lebar.

Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al Busaidi, menyatakan dalam unggahan media sosialnya bahwa dialog lanjutan di Jenewa ditujukan untuk “melangkah lebih jauh menuju finalisasi kesepakatan.” Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa mediator berupaya mengatasi kebuntuan negosiasi yang telah berlangsung sejak beberapa pekan terakhir.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang akan memimpin delegasi Teheran, mengatakan bahwa pihaknya sedang menyusun proposal tertulis yang akan menjadi dasar pembicaraan lanjutan. Araghchi menambahkan bahwa ada peluang untuk mencapai solusi diplomatik yang saling menguntungkan meskipun perselisihan utama tetap berada pada soal kemampuan Iran untuk memperkaya uranium.

“Kami melihat masih ada ruang untuk diplomasi, asalkan hak Iran untuk program nuklir yang damai dihormati, dan sanksi yang membebani ekonomi kita dapat dicabut,” ujar Araghchi dalam wawancara sebelum keberangkatan ke Jenewa, dikutip Senin (23/2/2026).

Namun, proses negosiasi ini berlangsung di bawah bayang-bayang kekuatan militer yang meningkat. Amerika Serikat telah menempatkan pasukan tambahan di kawasan Teluk Persia, langkah yang menurut analis menimbulkan tekanan ekstra terhadap Iran, sekaligus memperbesar kemungkinan opsi militer jika diplomasi gagal.

Kasus ini tidak terlepas dari situasi domestik Iran, di mana tekanan politik dan sosial di dalam negeri juga turut memengaruhi dinamika negosiasi. Perwakilan Iran tampak harus menyeimbangkan tuntutan rakyatnya dengan strategi geopolitik yang lebih luas di hadapan tekanan global. [a46]

Tag :
ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.