Sinata.id - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan menutup perdagangan dengan catatan kurang menggembirakan. Mata uang Garuda melemah di saat sentimen pasar regional bergerak hati-hati, membuat rupiah menjadi sorotan utama di Asia.
Pada penutupan perdagangan Senin (22/12/2025), kurs dolar Amerika Serikat diperdagangkan di level Rp16.776 di pasar spot. Posisi tersebut mencerminkan pelemahan rupiah dibandingkan akhir pekan sebelumnya, sekaligus menempatkannya sebagai mata uang dengan kinerja terlemah di kawasan pada hari itu.
Pertanyaannya kini, ke mana arah rupiah pada perdagangan Selasa (23/12/2025)?
Dari sudut pandang teknikal harian, tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda. Pergerakan masih berada di area rawan pelemahan, dengan zona Rp16.780 hingga Rp16.800 per dolar AS menjadi titik krusial yang diawasi pelaku pasar. Jika area ini tak mampu dipertahankan, risiko pelemahan lanjutan terbuka hingga mendekati Rp16.850.
Bahkan, selama rupiah bertahan di atas level Rp16.800 per dolar AS, peluang menuju area Rp16.870 masih membayangi. Level tersebut berpotensi menjadi catatan terlemah sepanjang sejarah nilai tukar rupiah.
Meski begitu, peluang koreksi ke arah penguatan belum sepenuhnya tertutup. Area Rp16.740 menjadi sasaran awal jika rupiah mampu bangkit. Sementara penguatan lanjutan berpotensi menguji kisaran Rp16.700 per dolar AS.
Dari sisi domestik, perhatian pasar tertuju pada faktor penopang internal. Biasanya, lelang Surat Berharga Negara (SBN) setiap hari Selasa kerap menjadi magnet arus dana asing yang membantu menahan tekanan rupiah. Namun, agenda lelang SBN untuk tahun 2025 telah rampung.
Sepanjang tahun ini, pemerintah berhasil menghimpun dana ratusan triliun rupiah dari penerbitan SBN—melonjak signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Di saat yang sama, imbal hasil SBN terus menunjukkan tren penurunan, termasuk tenor 10 tahun yang ditutup di kisaran enam persen pada perdagangan terakhir.
Bagi pemerintah, penurunan yield menjadi angin segar karena menekan biaya bunga utang. Namun dari kacamata investor, situasinya berbeda. Imbal hasil yang kian tipis membuat daya tarik investasi SBN berkurang.
Kondisi ini diperkuat oleh menyempitnya selisih imbal hasil antara obligasi pemerintah Indonesia dan obligasi Amerika Serikat. Spread yang kian mengecil mencerminkan berkurangnya kompensasi risiko bagi investor asing, yang pada akhirnya turut memengaruhi minat masuk modal ke pasar keuangan domestik.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.