MENU
Pasar Modal Bergejolak, IHSG Rontok 3 Persen
WA FB
News

Pasar Modal Bergejolak, IHSG Rontok 3 Persen

R Editor : Redaksi Sinata | 14 Oct 2025 | 17:35 WIB
Pasar Modal Bergejolak, IHSG Rontok 3 Persen
IHSG terjun bebas 3 persen dan resmi menembus ke bawah level 8.000, dipicu kepanikan pelaku pasar yang dihantui ancaman perang dagang jilid baru antara Washington dan Beijing. (Ilustrasi)

Sinata.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 3 persen pada perdagangan Selasa siang (14/10/2025) hingga terlempar dari level psikologis 8.000 ke posisi 7.979, tertekan aksi jual masif di tengah memanasnya tensi dagang Amerika Serikat–China.

IHSG tergelincir tajam memasuki zona koreksi dalam. Hingga pukul 14.00 WIB, IHSG ambruk 3 persen dan terpental dari level psikologis 8.000, terjun bebas ke 7.979.

Tekanan jual berlangsung masif. Data perdagangan mencatat 33,79 miliar saham berpindah tangan dengan nilai transaksi mencapai Rp21,26 triliun. Aktivitas 2,3 juta kali transaksi tercatat terjadi hanya dalam separuh hari. Namun ironisnya, mayoritas saham justru dihantam aksi buang oleh investor: 619 saham melemah, hanya 119 saham menguat, dan 63 stagnan.

Sektor transportasi menjadi pemberat utama indeks setelah terkapar 4,54 persen. Saham-saham keuangan ikut tersungkur 3,33 persen, sementara kelompok teknologi menyerah 2,85 persen. Tekanan ini terjadi konsisten sejak pembukaan perdagangan Sesi II siang hari.

Investor pun menahan napas. Aksi panic selling kembali hadir, menandakan pelaku pasar cenderung memindahkan dana ke aset aman.

China Balas Tarif Trump

Gejolak IHSG kali ini tak lepas dari badai yang datang dari luar negeri. Ancaman tarif besar-besaran dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap produk China kembali memicu eskalasi ketegangan dagang. Beijing langsung merespons cepat.

Dalam laporan Bloomberg News, pemerintah China memberlakukan pembatasan baru terhadap lima anak perusahaan Hanwha Ocean asal AS sebagai langkah balasan atas penyelidikan Washington terhadap industri maritim dan pelayaran China. Langkah itu disinyalir membuka babak baru perang dagang.

“Sentimen pasar kembali rapuh, gejolak muncul lagi di pasar saham hingga aset kripto,” ujar Hebe Chen, Analis Pasar Vantage Markets.

“Rekor kenaikan harga emas menunjukkan satu hal—investor sedang berlindung dari badai berikutnya.”

Meski panas, Washington dan Beijing dikabarkan tetap menjalin komunikasi dalam mekanisme konsultasi ekonomi bilateral. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menyebut kemungkinan pertemuan antara Presiden Trump dan Presiden Xi Jinping masih terbuka, namun ia memperingatkan opsi balasan terhadap China belum tertutup.

China di sisi lain mendesak negosiasi dilanjutkan untuk meredam ketidakpastian perdagangan global.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.