MENU
Pasca Tragedi Bocah SD di NTT, Negara Didesak Perkuat Sistem Lindungi...
WA FB
News

Pasca Tragedi Bocah SD di NTT, Negara Didesak Perkuat Sistem Lindungi Anak

R Editor : Redaksi Sinata | 05 Feb 2026 | 21:16 WIB
Pasca Tragedi Bocah SD di NTT, Negara Didesak Perkuat Sistem Lindungi Anak
Tragedi bocah SD di NTT mengguncang publik. Menteri PPPA mendorong penguatan sistem perlindungan anak hingga tingkat keluarga. (Ist)

Jakarta, Sinata.id – Seorang siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, ditemukan meninggal dunia dengan dugaan bunuh diri. Peristiwa ini bukan hanya mengguncang warga setempat, tetapi juga mengetuk kesadaran nasional akan rapuhnya sistem perlindungan anak.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Ia menyebut tragedi ini sebagai peringatan keras agar negara dan masyarakat tidak lagi lengah.

“Kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga. Ini menjadi pengingat bahwa penguatan sistem perlindungan anak melalui implementasi Kabupaten/Kota Layak Anak harus berjalan konsisten hingga ke tingkat keluarga dan komunitas,” ujar Arifah,  dikutip Kamis (5/2/2026).

Arifah menegaskan, program Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) tidak boleh berhenti sebagai dokumen kebijakan. Menurutnya, negara wajib memastikan setiap anak benar-benar merasakan perlindungan, bukan sekadar membaca aturan.

“Negara tidak boleh absen. Setiap anak berhak atas perlindungan, pendidikan, dan ruang aman untuk tumbuh. Kebijakan KLA harus hidup di lapangan, bukan hanya di atas kertas,” tegasnya.

Ia juga mengajak semua pihak—keluarga, sekolah, hingga komunitas—untuk membangun pagar bersama bagi anak-anak yang rentan.

Dalam pernyataannya, Arifah menyoroti bahwa isu kesehatan mental dan perlindungan kerap lebih banyak difokuskan pada anak perempuan, sementara anak laki-laki sering luput dari perhatian, meski sama-sama menghadapi tekanan.

“Setiap anak adalah amanah. Perlindungan bukan hanya tugas negara, tetapi juga keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kita harus hadir bersama menciptakan lingkungan yang aman dan suportif,” ucapnya.

Korban berinisial YBS (10) ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026) sekitar pukul 11.00 Wita, tergantung di dahan pohon cengkih di sekitar kebun di wilayah Ngada. Kejadian ini menggemparkan warga dan meninggalkan luka mendalam bagi keluarga.

Sebelum peristiwa itu, sang ibu MGT (47) sempat menanyakan alasan YBS tidak berangkat ke sekolah. Bocah itu berpamitan untuk pergi ke kebun. Namun hingga siang hari, ia tak kunjung kembali. [a46]

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.