MENU
Pemimpin Oposisi Rusia Navalny Diracun Zat Mematikan dari Katak Hutan...
WA FB
Dunia

Pemimpin Oposisi Rusia Navalny Diracun Zat Mematikan dari Katak Hutan Ekuador, Kremlin Dituding Bertanggung Jawab

R Editor : Redaksi Sinata | 15 Feb 2026 | 15:03 WIB
Pemimpin Oposisi Rusia Navalny Diracun Zat Mematikan dari Katak Hutan Ekuador, Kremlin Dituding Bertanggung Jawab
Alexei Navalny. (Bloomberg)

Munich, Sinata.id — Pemimpin oposisi Rusia, Alexei Navalny, dilaporkan tewas dengan tidak wajar saat menjalani hukuman di penjara Siberia. Navalny, diduga diracun dengan zat mematikan yang berasal dari kulit katak di Ekuador. Tuduhan ini resmi diumumkan Pemerintah Inggris bersama empat negara Eropa di sela-sela pertemuan keamanan global di Munich Security Conference 2026.

Laporan intelijen bersama yang dipimpin oleh Inggris, ikut ditandatangani oleh Prancis, Jerman, Swedia, dan Belanda, menyatakan bahwa epibatidine — racun saraf ultra kuat yang hanya ditemukan secara alami pada katak hutan hujan di Ekuador, terdeteksi dalam sampel tubuh Navalny. Zat ini diyakini “sangat mungkin menjadi penyebab langsung kematiannya”.

“Hanya negara Rusia yang memiliki sarana, motif, dan kesempatan untuk menggunakan racun ini terhadap Navalny selama masa tahanannya di sebuah koloni penal di Siberia, dan kami memegang Rusia bertanggung jawab atas kematiannya,” tegas Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper saat menyampaikan hasil pemeriksaan intensif tersebut, dikutip Minggu (15/2/2026).

Navalny, yang dikenal sebagai tokoh oposisi paling vokal terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin, meninggal pada Februari 2024 saat menjalani hukuman 19 tahun atas dakwaan yang banyak dikritik sebagai “politically motivated”. Pemerintah Rusia sebelumnya menyatakan kematiannya akibat kondisi kesehatan, namun temuan racun epibatidine kini menjadi titik balik narasi resmi.

Racun ini bekerja dengan cara melumpuhkan saraf dan menghentikan pernapasan — gejala yang sebelumnya dilaporkan oleh keluarga dan tim medis independen sebagai tanda keracunan. Epibatidine sendiri tidak pernah ditemukan secara alami di Rusia, sehingga para analis Barat menyatakan tidak ada alasan lain selain penggunaan sengaja untuk menjelaskan keberadaannya dalam tubuh Navalny.

Selain Inggris, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot menegaskan pernyataan serupa via akun media sosialnya, menyatakan bahwa temuan ini menunjukkan keinginan rezim untuk menggunakan senjata biologis dalam politik internalnya, demi mempertahankan kekuasaan. “Kami kini tahu bahwa Putin siap menggunakan senjata biologis terhadap rakyatnya sendiri,” tulis Barrot.

Sementara itu, istri almarhum Navalny, Yulia Navalnaya, menyambut pengungkapan ini sebagai keadilan yang tertunda. “Saya yakin dari hari pertama bahwa Alexei diracun… sekarang ada bukti,” katanya dalam sebuah unggahan yang mengutip efek mematikan racun tersebut: kelumpuhan total dan kematian yang menyakitkan.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.