MENU
Penangkapan Presiden Nicolas Maduro Jadi Ujian Bagi Senjata Buatan Chi...
WA FB
Dunia

Penangkapan Presiden Nicolas Maduro Jadi Ujian Bagi Senjata Buatan China

T Editor : Tumpal Pandapotan | 07 Jan 2026 | 19:36 WIB
Penangkapan Presiden Nicolas Maduro Jadi Ujian Bagi Senjata Buatan China
Gambar ilustrasi. AI

Caracas, Sinata.id - Operasi militer Amerika Serikat di Caracas, Venezuela, pada Sabtu lalu menyoroti keunggulan teknologi militer AS sekaligus memunculkan tanda tanya besar terhadap efektivitas sistem persenjataan buatan China yang digunakan pemerintah Venezuela.

Serangan tersebut berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang kemudian diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan terkait “narkoterorisme.”

Dalam operasi itu, pasukan AS juga membombardir sejumlah infrastruktur di wilayah Venezuela utara. Pejabat setempat melaporkan lebih dari 80 orang tewas, termasuk warga sipil.

Sejumlah pengamat menilai keberhasilan operasi tersebut menunjukkan kegagalan sistem radar anti-siluman JY-27A buatan China yang dipasang di Venezuela.

Radar bergerak itu sebelumnya dipromosikan mampu mendeteksi pesawat siluman generasi kelima milik AS, seperti F-22 dan F-35, dari jarak lebih dari 150 mil. Namun, pada saat krusial, sistem tersebut diduga tidak memberikan peringatan dini.

Para analis menyebut serangan dini hari itu tidak hanya memperlihatkan kemampuan intelijen dan serangan presisi AS di jantung Caracas, tetapi juga mengungkap keterbatasan—atau setidaknya lemahnya kesiapan operasional—jaringan pertahanan udara Venezuela yang selama ini digadang-gadang sebagai salah satu yang terkuat di Amerika Selatan.

Operasi tersebut menuai kritik keras dari sejumlah kalangan yang menilai tindakan AS melanggar hukum internasional dan berpotensi bertentangan dengan hukum domestik Amerika Serikat.

Kritik itu merujuk pada tidak adanya pemberitahuan maupun persetujuan Kongres sebelum operasi dilancarkan.

Di sisi lain, insiden ini dinilai dapat mencoreng ambisi Beijing yang tengah memperluas pengaruhnya sebagai pemasok utama persenjataan global.

Sementara Newsweek melaporkan telah menghubungi Kementerian Luar Negeri China dan Pentagon untuk meminta tanggapan resmi melalui surat elektronik.

Wakil Menteri Pertahanan Taiwan Hsu Szu-chien, dalam pernyataannya di hadapan parlemen, menilai operasi tersebut menegaskan keunggulan persenjataan Amerika Serikat.

Ia menyatakan senjata dan sistem militer AS tetap berada di tingkat teratas, namun menekankan bahwa persoalan utama terletak pada perawatan peralatan militer Venezuela.

“Ini sangat penting bagi kami. Peralatan perlu terus dipelihara dan diperbarui. Jika musuh membuat kemajuan, kita juga harus membuat kemajuan.”

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.