Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, hanya sepekan setelah China menggelar latihan militer besar-besaran yang ditujukan sebagai peringatan kepada Taiwan, wilayah yang diklaim Beijing dan disebut akan disatukan dengan kekuatan militer jika diperlukan.
Sebelumnya, Institut Intelijen Strategis Miami dalam laporan Juni menyebut kondisi pertahanan udara Venezuela berada pada tahap mengkhawatirkan.
Laporan itu terbit dua bulan sebelum AS meningkatkan kehadiran militernya di Karibia dengan alasan memerangi jaringan perdagangan narkoba.
“Lebih dari 60 persen armada radar negara itu tidak beroperasi,” kata laporan itu, yang menyoroti kelangkaan suku cadang serta dukungan teknis yang disebut “minimum” dari China. Laporan tersebut menyebut suku cadang hanya disalurkan melalui perantara sipil.
Temuan itu, menurut lembaga tersebut, didasarkan pada kesaksian langsung serta komunikasi internal personel militer Venezuela yang diverifikasi silang dengan catatan pemeliharaan, data teknis, dan sumber terbuka.
Sejumlah analis pertahanan menegaskan bahwa keberadaan radar canggih saja tidak cukup untuk menghadapi pesawat siluman.
Rick Joe, analis sumber terbuka yang lama mengamati perkembangan militer China, menulis di X:
“Anda masih membutuhkan GBAD [pertahanan udara berbasis darat] yang kompeten, modern, dan terhubung jaringan, serta IADS [sistem pertahanan udara terintegrasi] multi-domain.”
Sementara itu, Eric Hundman, analis China dan direktur riset BluePath Labs, dalam laporan Maret untuk China Aerospace Studies Institute—lembaga kajian milik Angkatan Udara AS—mengungkapkan luasnya penyebaran sistem radar buatan China di dunia.
“Setidaknya 23 negara ditemukan telah menerima sistem radar pertahanan udara buatan China, meskipun laporan sesekali tentang masalah dengan kemampuan dan keandalannya mungkin menunjukkan bahwa produsen RRT [Republik Rakyat Tiongkok] kesulitan bersaing di sektor ini. Penerima utama sistem ini termasuk Pakistan, Venezuela, dan Mesir." (*)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.