Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.
Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”
Melalui ayat tersebut, Alkitab menegaskan bahwa pendidikan iman bukan hanya tanggung jawab lembaga keagamaan, melainkan dimulai dari keluarga sebagai tempat pertama anak belajar mengenai nilai kehidupan.
Refleksi ini sekaligus mengajak orang tua untuk kembali melihat perannya sebagai pendidik utama dalam keluarga, terutama dalam membentuk karakter anak melalui pengajaran yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
Pertanyaan Perenungan
1. Mengapa Tuhan memerintahkan orang tua untuk terus mengajarkan firman-Nya kepada anak-anak dalam setiap kesempatan?
2. Bagaimana keluarga dapat menjaga agar nilai takut akan Tuhan tetap menjadi dasar dalam kehidupan anak-anak di tengah perkembangan zaman?
Pendidikan iman dalam keluarga bukan sekadar kewajiban, tetapi bagian dari panggilan hidup orang tua. Ketika orang tua setia menanamkan nilai takut akan Tuhan sejak dini, mereka sedang membangun fondasi yang kuat bagi masa depan generasi berikutnya. Dari rumah yang dipenuhi firman Tuhan, lahir generasi yang memiliki karakter, iman, dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan.
Selamat bersaat teduh. (A27)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.