Sinata.id - Raksasa teknologi global Alphabet Inc. melangkah agresif di tengah panasnya persaingan kecerdasan buatan. Perusahaan induk Google itu resmi mengunci kesepakatan bernilai jumbo dengan mengakuisisi pengembang energi bersih Intersect Power LLC, sebuah langkah strategis yang menegaskan bahwa perebutan era AI kini tak hanya soal algoritma, tetapi juga soal listrik.
Nilai transaksi tersebut mencapai US$4,75 miliar atau setara Rp79,6 triliun, dibayarkan secara tunai dan ditambah pengambilalihan kewajiban utang. Kesepakatan ini menjadi salah satu aksi korporasi terbesar Alphabet dalam upaya memperluas kapasitas pusat data yang menopang lonjakan kebutuhan komputasi AI.
Langkah ini diumumkan pada Senin waktu setempat, di saat jaringan listrik Amerika Serikat menghadapi tekanan berat. Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, sistem kelistrikan nasional kewalahan mengejar lonjakan permintaan daya, sebagian besar dipicu oleh ekspansi masif pusat data berbasis kecerdasan buatan.
Alphabet sebelumnya sudah “mengintip peluang” dengan mengambil kepemilikan minoritas di Intersect tahun lalu. Kemitraan itu membuka jalan bagi pembangunan pembangkit energi skala besar yang berdampingan langsung dengan kampus pusat data Google—sebuah model baru yang kini naik kelas menjadi akuisisi penuh.
CEO Google dan Alphabet, Sundar Pichai, menegaskan bahwa Intersect akan memainkan peran kunci dalam strategi energi perusahaan. Ia menyebut pengembang energi tersebut sebagai katalis untuk mempercepat pembangunan pembangkit baru, merespons beban pusat data yang terus meningkat, sekaligus merancang ulang solusi energi masa depan.
Gelombang AI global memang memicu pergeseran besar di industri energi dan pusat data. Sejumlah konglomerasi teknologi dan keuangan berlomba mengamankan pasokan listrik. Di saat bersamaan, konsolidasi industri terus terjadi—mulai dari penjajakan akuisisi operator pusat data hingga pembelian perusahaan utilitas oleh investor global.
Alphabet bukan satu-satunya pemain dalam perlombaan ini. Amazon dan Microsoft juga berpacu membangun pusat data raksasa, sembari menghadapi dilema besar: menjaga target iklim ambisius di tengah lonjakan konsumsi energi akibat AI. Bahkan, Google mencatat emisi karbonnya melonjak hampir 50 persen dalam lima tahun terakhir, seiring ekspansi data center yang kian agresif.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.