"Kita masih memiliki banyak persoalan di Bumi. Mengapa harus menempatkan senjata di luar angkasa untuk menyerang tanah air sendiri? Itu terdengar tidak masuk akal," katanya.
Namun, ia mengakui bahwa ruang angkasa telah menjadi domain strategis baru yang berkaitan dengan keunggulan teknologi dan keamanan nasional.
Kemampuan Anti-Satelit Jadi Sorotan
Salah satu momen yang menarik perhatian dunia terjadi pada 2007 ketika PLA berhasil menghancurkan satelit cuaca yang sudah tidak beroperasi menggunakan rudal anti-satelit (ASAT) berbasis darat.
Menurut Zhou, kemampuan tersebut memang dimiliki Tiongkok sebagai bagian dari sistem pertahanan modern.
"Kami memiliki kemampuan anti-satelit untuk menargetkan satelit menggunakan rudal. Di ruang angkasa, sering kali sulit menentukan apa yang dapat dikategorikan sebagai senjata dan apa yang bukan," ujarnya.
Sementara itu, Badan Intelijen Pertahanan AS menilai Tiongkok kemungkinan telah mengembangkan kemampuan ASAT untuk menjangkau orbit yang lebih tinggi serta terus memperluas teknologi antariksa militer.
Dorongan Stabilitas Strategis Global
Pendiri sekaligus Presiden Pusat untuk Tiongkok dan Globalisasi, Henry Wang, menilai hubungan kedua negara kini telah melampaui sekadar persaingan strategis.
"Kita tidak lagi hanya berbicara tentang kompetisi strategis, tetapi juga stabilitas strategis. AS dan Tiongkok harus menciptakan keseimbangan demi kepentingan kedua negara dan stabilitas dunia," kata Wang.
Di tengah dinamika tersebut, Presiden AS Donald Trump terus mendorong penguatan sektor teknologi nasional guna mempertahankan keunggulan AS dalam menghadapi perkembangan pesat Tiongkok di bidang militer, teknologi, dan antariksa. (A02)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.