Kebijakan AS selama puluhan tahun mengharuskan agar senjata yang dijual ke Israel harus tetap lebih unggul secara kualitatif dibandingkan negara-negara tetangganya.
Karena itu, penjualan F-35 ke Riyadh berpotensi mengguncang keunggulan militer kualitatif (QME) yang selama ini dijaga ketat Washington.
Media Israel, The Jerusalem Post, bahkan memperingatkan risiko kebocoran teknologi jika Arab Saudi mendekat ke Rusia, China, atau Iran. “Jika Riyadh membagikan teknologi F-35 kepada Moskow atau Beijing, dominasi Israel di kawasan akan terguncang,” tulis publikasi tersebut.
Jalan Terjal di Washington dan Tel Aviv
Di sisi lain, pejabat keamanan Israel telah memperingatkan bahwa jika penjualan ini disetujui, mereka akan meninjau ulang strategi pertahanan nasional.
Beberapa analis menyebut Washington mungkin akan menjual versi F-35 dengan spesifikasi yang diturunkan (tanpa upgrade Block 4) untuk menenangkan Israel. Namun, belum jelas apakah Riyadh bersedia menerima kompromi tersebut.
Skenario lain yang beredar di lingkaran kebijakan AS adalah meningkatkan arsenal Israel dengan jet generasi berikutnya, F-47, agar keseimbangan militer tetap terjaga. Trump bahkan sempat menyebutkan kemungkinan mengekspor versi “terbatas” F-47 jika Riyadh mendapatkan F-35.
Isu HAM dan Opsi Alternatif
Selain faktor geopolitik, penjualan F-35 juga dibayangi isu hak asasi manusia (HAM). Kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi (2018) masih menghantui citra internasional Saudi, membuat Kongres dan sejumlah negara Eropa—termasuk Jerman—pernah memveto ekspor senjata ke Riyadh. Namun, veto Jerman terhadap ekspor Eurofighter Typhoon kini telah dicabut, membuka opsi lain bagi kerajaan.
Jika penjualan F-35 gagal, Arab Saudi dapat memperkuat armadanya dengan Rafale Prancis atau Eurofighter tambahan, sekaligus menjajaki partisipasi dalam program jet tempur generasi keenam Global Combat Air Programme (GCAP) yang digarap Inggris, Jepang, dan Italia.
Analisis: Keseimbangan Baru di Timur Tengah
Jika Washington memberi lampu hijau, penjualan F-35 ke Arab Saudi akan menjadi titik balik besar dalam geopolitik Timur Tengah. Selain mengubah struktur kekuatan udara kawasan, kesepakatan ini akan menguji sejauh mana AS berani menyeimbangkan kepentingan keamanan Israel dengan upaya menahan pengaruh Rusia dan China di Teluk.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.