MENU
Ribuan Pekerja Lari dari Neraka Industri Scam Myanmar
WA FB
News

Ribuan Pekerja Lari dari Neraka Industri Scam Myanmar

R Editor : Redaksi Sinata | 23 Oct 2025 | 18:27 WIB
Ribuan Pekerja Lari dari Neraka Industri Scam Myanmar
Ratusan orang yang diduga menjadi korban perdagangan manusia, kabur dari pusat industri scam Myanmar dan menyeberang ke Thailand. (Ist)

Salah satu faktor yang membuat jaringan ini semakin sulit diberantas adalah masuknya layanan internet satelit Starlink milik Elon Musk ke Myanmar.

Dengan koneksi mandiri tanpa infrastruktur darat, para operator scam kini bisa beroperasi di lokasi terpencil sekalipun.

Ironisnya, koneksi cepat Starlink yang diciptakan untuk “menghubungkan dunia” justru dimanfaatkan oleh kelompok kriminal untuk memperluas jaringan gelap mereka, membuat aparat kewalahan melacak lokasi server atau pelaku utama.

Kejahatan yang Menyebar ke Seluruh Asia

Myanmar bukan satu-satunya episentrum. Jejak industri scam kini juga terendus di Kamboja, Laos, hingga perbatasan Thailand–China.

Skema yang dijalankan lintas negara ini tak hanya melibatkan penipuan finansial, tetapi juga perdagangan manusia dan eksploitasi tenaga kerja digital.

Bloomberg News melaporkan, puluhan warga Korea Selatan dideportasi dari Kamboja bulan ini karena diduga terlibat dalam jaringan scam.

Sementara di Myanmar, junta militer dikabarkan menyita ribuan perangkat elektronik dan penerima Starlink dalam penggerebekan besar-besaran yang menahan lebih dari 2.000 pekerja.

Kejahatan Siber Bernilai Miliaran Dolar

Badan Dunia PBB (UNODC) mencatat bahwa sindikat kejahatan siber di Asia Tenggara kini bernilai miliaran dolar AS.

Aktivitasnya kian sulit dilacak karena banyak beroperasi di pasar gelap online menggunakan mata uang kripto.

Pergeseran dari koneksi internet berbasis darat ke sistem satelit memperburuk situasi, membuat jaringan ini semakin sulit diputus.

Dalam laporan terbarunya, UNODC memperingatkan bahwa modus penipuan digital kini telah menembus lintas benua, dari Meksiko, Afrika, Pasifik, hingga Amerika Selatan.

Dunia maya, yang awalnya diciptakan untuk konektivitas global, kini berubah menjadi ladang kejahatan yang melibatkan ribuan korban dari puluhan negara.

Jaringan Global yang Terkoneksi Gelap

Fenomena ini membuktikan satu hal: kejahatan digital tidak mengenal batas negara.

Sindikat scam di Asia Tenggara kini memiliki jaringan kompleks yang menghubungkan ribuan “operator” di seluruh dunia, dengan sistem keuangan berbasis kripto yang membuatnya sulit dilacak.

“Ini bukan lagi masalah regional, tapi global. Para pelaku memperdagangkan manusia dari berbagai negara, mengurung mereka di pusat-pusat penipuan di Myanmar, Kamboja, dan Laos,” tulis UNODC.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.