Teheran, Sinata.id – Angkatan Bersenjata Iran dilaporkan meluncurkan sejumlah rudal balistik canggih dalam serangan balasan terhadap Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Minggu (15/3/2026).
Salah satu yang menjadi sorotan adalah rudal Sejjil, yang disebut untuk pertama kalinya digunakan dalam konflik yang memanas sejak 28 Februari 2026.
Media internasional Al Jazeera melaporkan bahwa Iran menggunakan rudal tersebut sebagai bagian dari respons terhadap serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel.
“Untuk pertama kalinya dalam respons terhadap serangan AS–Israel, Iran meluncurkan rudal Sejjil,” tulis laporan Al Jazeera seperti dilansir Senin (16/3/2026).
Menurut laporan tersebut, rudal Sejjil menggunakan bahan bakar padat, yang membuatnya lebih sulit dideteksi serta lebih sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara.
Informasi itu juga dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran, Press TV, yang menyebut rudal tersebut diluncurkan dalam gelombang ke-54 operasi militer “True Promise 4” yang menargetkan wilayah Israel dan kepentingan AS di kawasan Timur Tengah.
Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan bahwa operasi pembalasan tersebut dilaksanakan dengan sandi operasi “Ya Zahra”.
Dalam operasi itu, IRGC mengerahkan sejumlah jenis rudal balistik, di antaranya Khorramshahr, Kheybar, Qadr, Emad, serta rudal Sejjil.
Rudal Sejjil dilaporkan menargetkan pusat komando dan kendali militer Israel serta sejumlah infrastruktur strategis lainnya.
Komandan Angkatan Udara IRGC, Majid Mousavi, juga mengonfirmasi peluncuran rudal Sejjil melalui unggahan di platform media sosial X.
Sementara itu, media lokal Israel melaporkan sirene peringatan serangan udara berbunyi di berbagai wilayah, termasuk di sekitar ibu kota Tel Aviv dan kota Herzliya, serta di lebih dari 140 lokasi lainnya.
Spesifikasi Rudal Sejjil
Berdasarkan laporan media internasional NDTV, Sejjil merupakan rudal balistik jarak menengah berbahan bakar padat dengan sistem dua tahap peluncuran.
Rudal ini diperkirakan memiliki jangkauan sekitar 2.000 kilometer dan mampu membawa hulu ledak dengan berat hingga 700 kilogram.
Karena kemampuannya bermanuver di ketinggian untuk menghindari sistem pertahanan udara, rudal ini dijuluki “dancing missile”, merujuk pada kemampuannya menghindari sistem pertahanan rudal seperti Iron Dome milik Israel.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.