Dari Pertengkaran Kecil Hingga Talak Tiga
Ketegangan dalam rumah tangga itu akhirnya meledak pada 14 Agustus 2025. Suami Fitri pulang kerja dalam keadaan lelah, dan langsung marah karena tidak menemukan lauk di meja makan.
“Saya sudah jelaskan, kami memang tidak ada uang untuk beli lauk. Tapi dia langsung marah, dan kata-katanya kasar sekali,” cerita Fitri.
Pertengkaran malam itu menjadi puncak dari akumulasi tekanan yang ia alami. Bukan hanya dari suaminya, tapi juga dari lingkungan keluarga besar yang terus menilai dan menekan.
Saat Fitri tengah mencuci piring, suaminya mengemasi pakaian, meminjam sepeda motor tetangga, lalu menjatuhkan talak tiga secara lisan di depan pintu rumah.
“Dia bilang, ‘Kamu Fitri, saya ceraikan satu, dua, tiga,’ lalu pergi bawa bajunya,” kenang Fitri.
Ditinggal Saat Suami Naik Jabatan
Tiga hari setelah kejadian itu, sang suami dilantik sebagai PPPK. Ironisnya, Fitri-lah yang sebelumnya membelikan atribut Korpri untuk pelantikan itu, dari hasil berjualan gorengan dan sayuran di pasar.
“Bajunya dia pesan di Shopee, tapi saya yang bayar. Uangnya dari hasil jual cabai. Saya bantu dia dari nol, tapi justru saya ditinggal begitu saja,” ungkapnya.
Kini, Fitri hidup di rumah orang tuanya bersama dua anaknya yang masih kecil. Ia berjualan gorengan di depan rumah demi menghidupi keluarganya.
“Kalau memang mau cerai, kenapa tidak dari dulu? Kenapa setelah punya jabatan baru ingat menceraikan saya?” katanya getir.
Fitri tak menampik bahwa persoalan ekonomi hanyalah pemicu kecil. Baginya, masalah sebenarnya adalah intervensi keluarga suami yang membuat hubungan mereka tak pernah sehat.
“Kalau ada apa-apa, suami saya selalu cerita ke ibunya dulu. Kadang bukan kami yang memutuskan, tapi orang rumahnya. Saya jadi serba salah, salah bicara dikit bisa dibesar-besarkan,” ujarnya.
Tekanan itu membuat Fitri merasa seolah berada di dua medan perang, di luar rumah melawan kerasnya hidup, dan di dalam rumah melawan ego serta campur tangan keluarga suami. [zainal/a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.