Jakarta, Sinata.id – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa (5/5/2026), bahkan sempat menyentuh level Rp17.435 per dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data pasar, rupiah dibuka melemah 0,22 persen ke posisi Rp17.403 per dolar AS pada pukul 09.07 WIB.
Tekanan berlanjut hingga pertengahan sesi perdagangan, meski sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen.
Namun, sentimen positif tersebut belum mampu menopang pergerakan rupiah yang tetap berada di kisaran Rp17.425 per dolar AS.
Bank Indonesia (BI) menyatakan telah mengambil langkah khusus untuk meredam tekanan terhadap rupiah melalui intervensi yang terukur di pasar keuangan.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G Hutapea, mengatakan kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global.
Sementara itu, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menepis anggapan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh kondisi fiskal pemerintah.
Menurutnya, kinerja fiskal justru menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026.
Ia menegaskan bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga saat ini masih terjaga di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek, seiring meningkatnya ketidakpastian global.
Ia menyebutkan, kenaikan harga minyak dunia yang memicu inflasi global berpotensi mendorong bank sentral utama seperti Federal Reserve untuk kembali menaikkan suku bunga.
Kondisi ini membuat dolar AS semakin menguat.
Di sisi lain, tingginya kebutuhan dolar AS di dalam negeri untuk impor energi juga turut menekan rupiah.
Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan masih bergerak dalam tekanan dan berpotensi melemah hingga kisaran Rp17.550 per dolar AS dalam pekan ini.
Pelemahan rupiah mencerminkan kuatnya pengaruh faktor eksternal terhadap pasar keuangan domestik. Meski fundamental ekonomi Indonesia relatif terjaga, dinamika global masih menjadi penentu utama arah pergerakan nilai tukar dalam waktu dekat. (A08)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.