MENU
Rupiah Melemah ke Rp17.630 per Dolar AS, Sentimen Global Tekan Pasar
WA FB
Ekonomi & Bisnis

Rupiah Melemah ke Rp17.630 per Dolar AS, Sentimen Global Tekan Pasar

J Editor : Jansen Siahaan | 18 May 2026 | 10:24 WIB
Rupiah Melemah ke Rp17.630 per Dolar AS, Sentimen Global Tekan Pasar
Uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah. (kapanlagi)

Jakarta, Sinata.id – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan pekan ini dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya tekanan sentimen global.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah pada perdagangan Senin (18/5/2026) dibuka melemah tajam sebesar 0,97 persen ke level Rp17.630 per dolar AS.

Posisi tersebut berbalik arah dibandingkan perdagangan terakhir sebelum libur panjang pada Rabu (13/5/2026), ketika rupiah ditutup menguat 0,17 persen ke level Rp17.460 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB tercatat menguat 0,09 persen ke level 99,370.

Pelemahan rupiah diperkirakan masih dipengaruhi berbagai faktor eksternal, terutama meningkatnya permintaan terhadap dolar AS di pasar global akibat ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Salah satu sentimen utama berasal dari masih alotnya perundingan antara AS dan Iran yang memicu kekhawatiran pasar global. Kondisi tersebut membuat investor cenderung memburu aset safe haven, termasuk dolar AS.

Tekanan juga terlihat dari penguatan indeks dolar AS yang terus berlanjut sejak pekan lalu. Dolar AS bahkan mencatat kenaikan selama lima hari berturut-turut dan berada di jalur penguatan mingguan terbesar dalam dua bulan terakhir.

Penguatan dolar terjadi seiring berubahnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed). Pelaku pasar mulai melihat peluang kenaikan suku bunga kembali terbuka setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan tekanan inflasi masih tinggi.

Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury. Yield obligasi tenor 10 tahun sempat menyentuh level 4,581 persen, tertinggi dalam setahun terakhir.

Kenaikan yield dipicu kekhawatiran terhadap inflasi global akibat konflik Iran serta potensi gangguan distribusi energi di Selat Hormuz.

Sejumlah pejabat The Fed dalam beberapa pernyataan terakhir juga menegaskan bahwa pengendalian inflasi tetap menjadi prioritas utama. Bahkan, sebagian pejabat membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan apabila tekanan harga terus meningkat.

Mengacu pada CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Desember 2026 mencapai 48,4 persen. Angka tersebut melonjak dibandingkan pekan sebelumnya yang hanya sebesar 14,3 persen.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.