Penguatan dolar AS secara global pada akhirnya membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain faktor eksternal, analis juga memperkirakan rupiah masih bergerak dalam tekanan pada awal pekan ini.
Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp17.590 hingga Rp17.660 per dolar AS.
“Rupiah hari ini diperkirakan masih melemah di rentang Rp17.590 sampai Rp17.660 per dolar AS,” ujar Ibrahim.
Pada perdagangan sebelumnya, rupiah juga sempat menyentuh level Rp17.612 per dolar AS sebelum bergerak di kisaran Rp17.579 per dolar AS.
Pelemahan rupiah memberikan dampak berbeda bagi dunia usaha di Indonesia. Sektor berbasis ekspor dinilai berpotensi mendapat keuntungan karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.
Analis pasar uang sekaligus Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menyebut pelemahan rupiah dapat menjadi sentimen positif bagi perusahaan eksportir.
“Barang Indonesia menjadi lebih murah di pasar global sehingga tetap menarik bagi pasar ekspor,” ujarnya.
Menurut Ariston, sektor perkebunan dan pertambangan, khususnya komoditas crude palm oil (CPO) dan batu bara, berpotensi memperoleh keuntungan lebih besar karena mayoritas transaksi menggunakan dolar AS.
Namun di sisi lain, pelemahan rupiah juga meningkatkan tekanan terhadap industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, mengatakan sekitar 70 persen bahan baku manufaktur nasional masih berasal dari impor.
“Setiap depresiasi rupiah akan langsung tercermin dalam peningkatan biaya input produksi,” kata Shinta.
Ia menilai sektor petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, serta manufaktur berbasis energi menjadi industri yang paling terdampak.
Sementara itu, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mulai mewaspadai potensi pengurangan tenaga kerja apabila pelemahan rupiah berlangsung berkepanjangan.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, mengatakan biaya operasional perusahaan kini semakin tertekan akibat depresiasi rupiah.
“Jika kondisi ini berlangsung lama, omzet pelaku usaha bisa semakin tertekan dan memicu rasionalisasi pekerja,” ujarnya.
Menurut Sarman, pemerintah perlu segera memperkuat langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas dunia usaha dan sektor ketenagakerjaan nasional. (A02)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.