MENU
Rupiah Menguat ke Rp16.995 per Dolar AS, Dipicu Pelemahan Dolar dan Is...
WA FB
Berita

Rupiah Menguat ke Rp16.995 per Dolar AS, Dipicu Pelemahan Dolar dan Isu Gencatan Senjata Iran

N Editor : Nida | 08 Apr 2026 | 10:35 WIB
Rupiah Menguat ke Rp16.995 per Dolar AS, Dipicu Pelemahan Dolar dan Isu Gencatan Senjata Iran
Ilustrasi rupiah. (Antara)

Jakarta, Sinata.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat signifikan pada perdagangan Rabu (8/4/2026). Penguatan ini terjadi seiring pelemahan dolar global yang dipicu kabar gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Berdasarkan data Bloomberg di pasar spot, rupiah terapresiasi sebesar 110 poin atau 0,64 persen ke level Rp16.995 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS tercatat melemah 0,96 persen ke posisi 98,9.

Sehari sebelumnya, Selasa (7/4/2026), rupiah sempat ditutup melemah 70 poin ke level Rp17.105 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan adanya perubahan sentimen pasar yang cukup cepat dalam waktu singkat.

Data dari Bloomberg dan TradingView mengindikasikan bahwa dolar AS menyentuh level terendah dalam satu bulan terakhir. Kondisi ini terjadi setelah muncul perkembangan geopolitik terkait keputusan Donald Trump yang menyetujui gencatan senjata sementara selama dua pekan dengan Iran.

Sentimen tersebut mendorong penguatan berbagai mata uang utama dunia dalam perdagangan Asia. Yen Jepang menguat 0,7 persen ke level 158,50 per dolar AS. Euro juga naik 0,7 persen menjadi 1,1677 dolar AS, sementara pound sterling Inggris menguat 0,8 persen ke posisi 1,3403 dolar AS.

Selain itu, mata uang komoditas turut mencatatkan penguatan. Dolar Australia naik 1,2 persen menjadi 0,7063 dolar AS, sedangkan dolar Selandia Baru menguat 1,1 persen ke level 0,5795 dolar AS.

Penguatan rupiah ini mencerminkan meredanya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik geopolitik yang sebelumnya sempat menekan mata uang negara berkembang. Sebelumnya, pernyataan keras dari Presiden Trump terkait potensi serangan terhadap Iran sempat memicu ketidakpastian global.

Namun, dengan adanya sinyal de-eskalasi melalui gencatan senjata, pelaku pasar mulai kembali masuk ke aset berisiko, termasuk mata uang emerging markets seperti rupiah.

Ke depan, pergerakan rupiah masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika global, termasuk kebijakan moneter AS serta perkembangan situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.