Jakarta, Sinata.id — Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan tajam pada awal Maret 2026, terjebak dalam bayang-bayang ketidakpastian global dan kekhawatiran pasar terhadap fundamental ekonomi domestik. Pergerakan mata uang nasional yang semula stabil kini berbalik arah, memicu sorotan tajam pelaku pasar dan analis keuangan.
Pada perdagangan Rabu pagi (4/3/2026), rupiah dibuka pada level yang lebih lemah dan terus bergerak mendekati Rp17.000 per dolar AS, menunjukkan tren depresiasi yang menguat di pasar spot dan offshore. Data Bloomberg menunjukkan kontrak Non-Deliverable Forward (NDF) sempat menyentuh sekitar Rp16.923/US$, level terlemah sejak awal tahun.
Analis pasar menilai dua faktor besar menghantui rupiah: eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dan penguatan indeks dolar AS. Lonjakan harga minyak mentah yang dipicu ketegangan regional juga memicu risk-off sentiment global, yang mendorong investor mengalihkan asetnya ke dolar — langkah yang memperlemah mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
“Tekanan eksternal masih dominan di pasar, terutama dari gejolak geopolitik dan harga energi global,” ujar seorang pengamat pasar valuta asing yang enggan disebutkan namanya tetapi sering menjadi narasumber media keuangan, saat dihubungi dari Jakarta. “Hal ini menjadi faktor utama yang membuat rupiah cenderung melemah terhadap dolar AS.”
Selain itu, penguatan indeks dolar AS ke level mendekati 99,05 mendorong rupiah semakin tertekan di kawasan Asia. Data pasar menunjukkan beberapa mata uang lain juga berada dalam tekanan serupa, meskipun tak setajam penurunan yang dialami rupiah.
Di dalam negeri, kekhawatiran pasar terhadap disiplin fiskal pemerintah kian meningkat. Laporan lembaga pemeringkat global sebelumnya menyoroti defisit anggaran Indonesia yang membengkak mendekati batas legal, serta outlook kredit yang disematkan dengan risiko negatif. Kondisi ini memperlemah kepercayaan investor, mempengaruhi arus modal, dan menambah beban pada nilai tukar rupiah.
Stephen Chiu dan Chunyu Zhang dari Bloomberg Economics menyebutkan dalam laporan risetnya bahwa “ketidakpastian terhadap belanja populis yang meningkat telah memperbesar keraguan pasar,” sebuah indikasi bahwa persepsi terhadap kebijakan fiskal turut menjadi faktor yang menekan rupiah.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.