Jakarta, Sinata.id — Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terbaru. Rupiah tercatat melemah ke kisaran Rp17.292 per dolar AS, turun sekitar 135 poin atau 0,79 persen. Data pasar juga menunjukkan USD/IDR sempat bergerak di area 17.304–17.310, menandakan rupiah masih bertahan di zona rentan.
Tekanan ini memperlihatkan bahwa pasar masih cenderung memilih dolar AS sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global yang meningkat.
Harga Minyak Tinggi Jadi Beban Utama Rupiah
Salah satu faktor utama yang menekan rupiah adalah lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak Brent tercatat berada di sekitar USD101,91 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) di USD94,22 per barel.
Di sisi domestik, Indonesian Crude Price (ICP) Maret juga berada di level tinggi, yakni sekitar USD102,26 per barel. Kondisi ini membuat beban impor energi Indonesia meningkat, sehingga kebutuhan dolar ikut naik dan memberi tekanan tambahan pada rupiah.
Selain minyak mentah, kenaikan harga LPG global juga memperbesar risiko defisit perdagangan energi serta berpotensi meningkatkan beban subsidi pemerintah.
Geopolitik Timur Tengah Picu Ketidakpastian
Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor yang memperburuk sentimen pasar. Konflik yang belum mereda serta ketegangan di jalur strategis seperti Selat Hormuz membuat pasar energi global berada dalam kondisi tidak stabil.
Gangguan distribusi energi dan potensi eskalasi konflik meningkatkan kekhawatiran inflasi global, yang pada akhirnya mendorong investor tetap bertahan di aset dolar AS.
Bank Indonesia Tahan Suku Bunga, Fokus Stabilitas Rupiah
Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 21–22 April 2026 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen. Sementara itu, Deposit Facility tetap di 3,75 persen dan Lending Facility di 5,50 persen.
BI menegaskan kebijakan tersebut difokuskan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang masih tinggi. Sikap ini menunjukkan bahwa kebijakan moneter saat ini cenderung defensif.
Likuiditas Naik, Tekanan Rupiah Masih Berlanjut
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.