“Ini tragedi. Orang-orang tidak lagi melihat masa depan di negeri sendiri. Pemerintah gagal menciptakan lapangan kerja yang layak,” tegasnya.
Sementara Wakil Pemimpin Partai Buruh, Carmel Sepuloni, mengatakan warga pergi bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan.
“Mereka melihat gelombang PHK, sistem kesehatan yang berantakan, harga rumah yang tak terjangkau, dan biaya hidup yang melambung. Mereka pergi karena pemerintah tidak menyediakan peluang di sini,” ujarnya.
Menteri Keuangan Nicola Willis menyatakan bahwa data migrasi terbaru menjadi alarm keras bagi pemerintah.
“Kita membutuhkan percepatan pertumbuhan dan lebih banyak pekerjaan di dalam negeri. Tidak ada alasan Selandia Baru tidak bisa mengejar kemakmuran Australia,” tegasnya.
Hal senada juga disampaikan Menteri Pariwisata Louise Upston, yang melihat angka keberangkatan tinggi sebagai bukti bahwa mesin ekonomi perlu dipacu lebih cepat.
“Ini konsekuensi dari pasar tenaga kerja yang lemah. Fokus kami adalah menumbuhkan perekonomian agar warga memilih tinggal,” katanya.
Upston optimistis sebagian dari mereka yang merantau ke Australia akan kembali suatu hari, meski mengakui tidak semuanya akan pulang. [a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.