MENU
Serangan AS ke Iran Diduga Gunakan AI “Terlarang”
WA FB
Berita

Serangan AS ke Iran Diduga Gunakan AI “Terlarang”

R Editor : Redaksi Sinata | 02 Mar 2026 | 17:17 WIB
Serangan AS ke Iran Diduga Gunakan AI “Terlarang”
Militer Amerika Serikat dilaporkan memakai teknologi AI Anthropic dalam serangan ke Iran. Penggunaan kecerdasan buatan di medan perang memicu polemik dan perdebatan etika global. (Ilustrasi)

Washington DC, Sinata.id - Dunia kembali dikejutkan oleh perkembangan terbaru konflik militer Amerika Serikat dan Iran. Dalam operasi besar yang dilancarkan beberapa hari terakhir, militer AS dilaporkan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) dari perusahaan startup Anthropic, meskipun Presiden Donald Trump telah memerintahkan pelarangan pemakaian teknologi tersebut oleh lembaga federal beberapa jam sebelumnya.

Peristiwa ini menggabungkan dua isu besar, yakni eskalasi militer di Timur Tengah dan kontroversi penggunaan teknologi mutakhir dalam peperangan modern.

Dalam operasi udara besar yang melibatkan pasukan AS dan Israel ke Iran akhir pekan lalu, yang dikenal sebagai Operation Epic Fury, militer diduga memanfaatkan AI bernama Claude, dikembangkan Anthropic, untuk membantu pengolahan intelijen, penentuan sasaran, dan simulasi pertempuran.

Dikutip Senin (2/3/2026), penggunaan AI dalam konteks ini menjadi sorotan tajam karena terjadi hanya hitungan jam setelah Presiden Trump secara publik mengumumkan pelarangan penggunaan teknologi tersebut oleh semua lembaga federal Amerika Serikat.

Menurut laporan beberapa media internasional yang mengutip sumber militer, keputusan pelarangan untuk tool AI seperti Claude sebenarnya belum sepenuhnya efektif secara operasional. Sistem ini masih tertanam kuat di berbagai unit militer, termasuk US Central Command (CENTCOM) yang menangani wilayah Timur Tengah.

Sumber yang dikutip menjelaskan bahwa meski Trump melarang penggunaan teknologi Anthropic, penghapusan dari sistem militer diperkirakan akan memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, terutama karena claude sudah terintegrasi dalam berbagai proses intelijen dan taktis.

Keputusan ini langsung memicu kontroversi global. Para kritikus menyebutnya sebagai “kontradiksi kebijakan” antara pernyataan politik dan realitas operasi militer. Menurut mereka, penggunaan teknologi AI yang sempat dinyatakan berisiko justru dipilih kembali untuk mendukung operasi paling kritis di medan perang.

Sementara itu, diskusi luas tentang etika perang berteknologi tinggi muncul di forum internasional. Sebagian pakar teknologi mengatakan bahwa AI seperti Claude digunakan untuk membantu analisis data yang sangat kompleks dan cepat dalam medan konflik, bukan sekadar sebagai alat komando otomatis, tetapi sebagai decision support system dalam intelijen dan perencanaan.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.