MENU
Serangan Balasan Iran Diklaim Turun 90 Persen
WA FB
Dunia

Serangan Balasan Iran Diklaim Turun 90 Persen

G Editor : Gunawan Purba | 07 Mar 2026 | 16:55 WIB
Serangan Balasan Iran Diklaim Turun 90 Persen
Ilustrasi. (Ist)

Jakarta, Sinata.id - Pemerintah Amerika Serikat mengklaim intensitas serangan balasan Iran terhadap AS dan sekutunya di kawasan Timur Tengah mengalami penurunan drastis dalam beberapa hari terakhir.

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyebutkan, serangan rudal balistik Iran telah berkurang hingga 90 persen sejak konflik meningkat pada pekan lalu.

“Serangan rudal balistik balasan mereka terhadap Amerika Serikat dan sekutu kami di kawasan ini telah menurun 90 persen hanya dalam enam hari terakhir,” ujar Leavitt, seperti dikutip dari Fox News, Sabtu (7/3/2026).

Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Iran pada 28 Februari lalu.

Menurut otoritas Iran, serangan tersebut menewaskan lebih dari 1.000 orang. Di antara korban yang dilaporkan tewas adalah Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, sejumlah pejabat militer senior, serta ratusan anak-anak.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan yang menargetkan wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer dan fasilitas diplomatik milik Amerika Serikat di negara-negara sekutunya.

Dalam rangkaian konflik tersebut, dilaporkan enam personel militer AS turut menjadi korban jiwa.

Leavitt juga menyampaikan bahwa Presiden Donald Trump dijadwalkan mengunjungi Pangkalan Angkatan Udara Dover di Delaware. Kunjungan itu dilakukan untuk menghadiri upacara pemindahan jenazah para anggota militer AS yang gugur.

Terkait lonjakan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan kawasan, Leavitt menegaskan pemerintah AS tetap fokus pada tujuan jangka pendek dari Operasi Epic Fury.

Ia menyebut operasi tersebut bertujuan melemahkan rezim Iran, yang menurutnya dalam jangka panjang akan berdampak positif bagi stabilitas pasar energi global.

“Ini akan menjadi kabar baik bagi pasar energi dan harga minyak dunia dalam jangka panjang, ketika tidak ada lagi rezim teroris yang menghambat arus bebas energi,” ujarnya. (A18)

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.