Jakarta, Sinata.id — Intensitas konflik di Timur Tengah melonjak drastis. Arab Saudi mengonfirmasi telah menghadapi gelombang serangan udara besar-besaran, dengan sekitar 98 drone dalam waktu kurang dari 24 jam.
Serangan tersebut disebut sebagai salah satu yang terbesar sejak perang kawasan pecah, dengan target utama berada di wilayah timur Saudi, jantung industri minyak dunia.
Tak hanya itu, beberapa drone juga terdeteksi mengarah ke ibu kota Riyadh, memperluas jangkauan ancaman hingga ke pusat pemerintahan.
Serangan ini bukan tanpa pola. Iran disebut semakin fokus membidik titik-titik vital energi, termasuk ladang minyak dan fasilitas produksi.
Sejumlah laporan dikutip Rabu (18/3/2026) menunjukkan, serangan drone memang diarahkan untuk melumpuhkan sektor energi Teluk, yang selama ini menjadi tulang punggung pasokan global.
Dalam beberapa pekan terakhir, fasilitas minyak di Saudi bahkan sudah beberapa kali menjadi target, termasuk kilang besar yang sempat terdampak serangan drone sebelumnya.
Jika sebelumnya serangan hanya berkisar puluhan drone, kini skalanya meningkat tajam.
Beberapa hari sebelumnya, Saudi sempat menghadapi serangan sekitar 50 drone dalam waktu singkat. Kini jumlahnya hampir dua kali lipat dalam satu hari, menandakan peningkatan kapasitas dan intensitas serangan.
Lonjakan ini memperkuat kekhawatiran bahwa konflik telah memasuki fase baru yang lebih agresif dan terkoordinasi.
Pihak Saudi mengklaim sebagian besar drone berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara.
Namun, skala serangan yang masif membuat risiko kebocoran tetap tinggi, terutama jika serangan dilakukan secara simultan dan berlapis.
Dalam konteks ini, penggunaan drone menjadi ancaman serius karena sulit dideteksi dan relatif murah, namun mampu menimbulkan dampak besar. [a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.