MENU
Setahun Tragedi Potomac, Duka Keluarga Korban Tabrakan Pesawat di AS
WA FB
Dunia

Setahun Tragedi Potomac, Duka Keluarga Korban Tabrakan Pesawat di AS

J Editor : Jansen Siahaan | 29 Jan 2026 | 21:58 WIB
Setahun Tragedi Potomac, Duka Keluarga Korban Tabrakan Pesawat di AS
Ilustrasi tabrakan pesawat. (shutterstock)

Washington, Sinata.id — Koper kecil milik anak-anak, sepatu seluncur es, hingga puing-puing pesawat yang terapung di Sungai Potomac menjadi simbol duka mendalam dari tragedi tabrakan pesawat penumpang dan helikopter militer yang terjadi setahun lalu.

Malam itu, sebuah pesawat American Airlines dan helikopter Black Hawk Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) bertabrakan hanya beberapa detik sebelum mendarat, menewaskan seluruh penumpang dan awak.

Kamis (29/1/2026), keluarga korban memperingati satu tahun kecelakaan yang tercatat sebagai insiden penerbangan paling mematikan di AS dalam lebih dari dua dekade. Selain keluarga, peringatan juga diikuti para petugas tanggap darurat yang menjadi saksi langsung upaya evakuasi di tengah kondisi ekstrem.

Tidak Ada Korban Selamat

Pesawat American Airlines Flight 5342 yang terbang dari Wichita, Kansas, menuju Washington bertabrakan dengan helikopter Black Hawk di atas Sungai Potomac pada 29 Januari 2025. Seluruh 64 penumpang dan awak pesawat, serta tiga awak helikopter, dinyatakan tewas.

“Kami menyadari sejak satu jam pertama bahwa tidak akan ada korban selamat,” ujar Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Layanan Medis Darurat Distrik Columbia, John Donnelly.

Menurut Donnelly, fokus utama saat itu adalah mengevakuasi jenazah dan barang-barang pribadi korban, sekaligus mengamankan bukti untuk keperluan investigasi kecelakaan.

Upaya Evakuasi di Tengah Kondisi Ekstrem

Selama hampir satu pekan, para penyelam dan petugas darurat menyisir sungai dengan kedalaman sekitar 2,5 meter. Jarak pandang nyaris nol, suhu air sangat dingin, serta paparan bahan bakar jet dan puing-puing tajam menjadi tantangan utama dalam proses evakuasi.

“Tidak ada keajaiban malam itu, hanya tugas berat untuk membawa pulang para korban kepada keluarga mereka,” kata Donnelly.

Pencarian barang-barang pribadi korban bahkan berlanjut hingga berbulan-bulan setelah kejadian.

Kenangan yang Sulit Dilupakan

Tim Lilley, ayah dari Sam Lilley (28), kopilot penerbangan tersebut, mengaku terharu dengan dedikasi para petugas penyelamat. Ia menyebut Sungai Potomac bukan lokasi yang aman untuk penyelaman, bahkan dalam kondisi terbaik sekalipun.

“Namun pada malam itu, mereka masuk ke air dan melakukan segala yang mereka bisa. Itu sungguh luar biasa,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.