Alih-alih dijawab dengan klarifikasi atau perbaikan kebijakan, kritik tersebut justru dibalas dengan intimidasi.
Ia juga mengungkap bahwa dirinya bukan satu-satunya yang mengalami hal serupa.
Beberapa influencer dan relawan yang bersuara tentang bencana Sumatera disebut menghadapi tekanan dengan pola hampir sama, mulai dari serangan digital hingga ancaman personal.
Mengulang Pola Lama
Bagi Sherly, teror kali ini mengingatkan pada pengalaman masa lalu.
Ia pernah mengalami tekanan serupa pada 2019, setelah mengkritik wacana pemindahan ibu kota negara.
Pengalaman tersebut membuatnya meyakini bahwa kritik kebijakan publik masih kerap dibalas dengan cara-cara non-demokratis.
Sherly menilai, teror terhadap dirinya merupakan bentuk pembungkaman terhadap suara kritis, terutama ketika kritik datang dari perspektif daerah dan isu kemanusiaan.
Ia menegaskan bahwa menyampaikan pendapat adalah hak warga negara, bukan tindakan subversif.
Tetap Bersikap Kritis
Meski menghadapi ancaman, Sherly Annavita Rahmi menyatakan tidak akan berhenti bersuara.
Ia meminta pihak di balik teror untuk menghentikan aksinya dan mengingat bahwa intimidasi hanya akan memperburuk iklim demokrasi.
Menurut Sherly, penyebab utama teror yang ia alami adalah keberaniannya membuka ruang diskusi tentang bencana Sumatera secara jujur dan terbuka.
Di tengah rasa takut yang muncul, ia menegaskan satu sikap: kepedulian terhadap kemanusiaan tidak seharusnya dibungkam dengan ancaman. [a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.