MENU
Sinopsis “Nia”, Film Kisah Nyata Gadis Penjual Gorengan yang Jadi Korb...
WA FB
Berita

Sinopsis “Nia”, Film Kisah Nyata Gadis Penjual Gorengan yang Jadi Korban Kejahatan di Sumbar

R Editor : Redaksi Sinata | 11 Nov 2025 | 19:03 WIB
Sinopsis “Nia”, Film Kisah Nyata Gadis Penjual Gorengan yang Jadi Korban Kejahatan di Sumbar
Film “Nia” karya Aditya Gumay mengangkat kisah nyata penjual gorengan yang tewas tragis demi menghidupi keluarganya. (Screenshot)

Sinata.id - Bayangkan, seorang gadis muda yang berjuang menjual gorengan demi menyambung hidup keluarganya, harus menemui akhir tragis di jalan sunyi. Kini kisah itu bangkit di layar lebar. Inilah ‘Nia’, film yang akan membuat Indonesia menatap kembali wajah kemanusiaan yang kerap diabaikan.

Suara hujan dan aroma tanah basah akan segera menjadi saksi di layar lebar pada Desember 2025 ini. Industri film Indonesia bersiap menyambut kisah paling menggetarkan akhir tahun ini, "Nia”, film yang diangkat dari tragedi nyata di Kayu Tanam, Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Mulai 4 Desember 2025, tangis terakhir seorang gadis penjual gorengan akan menggema di seluruh bioskop tanah air.

Menyayat Nurani

Diproduksi oleh Smaradana Pro dan digarap oleh sutradara kenamaan Aditya Gumay, “Nia” bukan sekadar film tragedi, tapi sebuah kisah kemanusiaan yang menelanjangi realitas keras di balik senyum gadis sederhana.

Film ini menuturkan perjuangan Nia Kurnia Sari (diperankan oleh Syakira Humaira), gadis 18 tahun yang saban hari berjualan gorengan untuk menghidupi ibunya, Eli (Helsi Herlinda), dan dua saudaranya.

Sejak orang tuanya berpisah, Nia menjadi tulang punggung keluarga.

Namun, hidup yang digerakkan oleh cinta dan tanggung jawab itu berubah menjadi mimpi buruk pada suatu sore di tengah hujan.

Dalam perjalanan pulang melewati jalan sunyi, Nia diserang oleh Andri (Qya Ditra), pemuda pengangguran yang sudah lama dikenal sebagai residivis.

Mengguncang Kayu Tanam

Nia diseret, dibekap, dan kehilangan nyawanya di tepian hutan.

Tubuhnya dikubur di tepi sungai irigasi. Keesokan harinya, kampung geger.

Warga bersama Makwo (Neno Warisman) dan pihak kepolisian melakukan pencarian selama tiga hari yang menegangkan, hingga jasad Nia ditemukan dalam kondisi memilukan.

Andri melarikan diri, tapi rasa bersalah menjadi bayangan yang tak pernah melepaskannya.

Sementara itu, kekasih Nia yang tengah berjuang melawan penyakit jantung hanya bisa menangis dalam sepi, menatap foto gadis yang pernah berjanji akan menunggunya sembuh.

Seruan Moral untuk Bangsa

Aditya Gumay menyebut “Nia” sebagai film perlawanan terhadap kekerasan terhadap perempuan, seruan moral agar tragedi seperti ini tak lagi terjadi.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.