Meski sempat tertangkap bersama Jarot dan Sahut, ia kembali meloloskan diri dari mobil tahanan setelah mendorong petugas pengawal hingga jatuh.
Aksi Spektakuler di Semarang
Melarikan diri ke Semarang, Slamet Gundul membangun jaringan baru di Barutikung, sarang preman kota itu.
Tahun 1989 menjadi puncak kejayaannya. Ia merampok juragan tembakau Kendal (Rp 23 juta), juragan ikan (Rp 40 juta), Universitas Islam Sultan Agung Semarang (Rp 34 juta), nasabah BCA Peterongan (Rp 28,5 juta), dan karyawan PT Nyonya Meneer (Rp 34 juta).
Jika dikonversi ke nilai sekarang, total hasil rampokan mencapai puluhan miliar rupiah.
Modusnya selalu mengelabui polisi. Saat dikejar, ia menebar uang rampasan di jalan-jalan sempit permukiman.
Warga yang berebut uang otomatis menghalangi jalan aparat, memberi celah baginya meloloskan diri.
Baku Tembak dan Pelarian Terakhir
Pada suatu malam di SPBU Pandansimping, Klaten, Slamet Gundul dan komplotannya disergap Tim Unit Sidik Sakti Polda Jawa Tengah.
Kontak tembak 15 menit pecah. Jarot tewas, dua lainnya tertangkap, sedangkan Slamet yang tertembak di bahu kembali lolos.
Ia berpindah ke Jakarta, lalu ke Malang, dan terus melakukan aksi meski semakin terdesak. Dalam satu perampokan di Jakarta, seorang polisi, Letnan Dua Soewito, tewas terkena peluru.
Tahun 1991, polisi Surabaya nyaris menangkapnya di Pasar Turi. Ironisnya, mereka melepas seorang pria bernama Supriadi karena tak ada bukti, baru kemudian sadar itu adalah Slamet Gundul.
Operasi besar-besaran digelar. Setelah seminggu pengintaian dan penyamaran, 30 polisi mengepung kawasan Rajawali dan Krembangan Bhakti.
Pada 16 Juni 1991, Slamet turun dari angkot, disergap, dan menyerah tanpa perlawanan.
Akhir Sang Legenda
Dibawa dengan pengamanan ketat menggunakan pesawat Cessna ke Jakarta, Slamet Gundul akhirnya menjalani persidangan di tiga kota, Surabaya, Semarang, dan Jakarta.
Ia mendekam di LP Cipinang pada akhir 1991, menutup perjalanan seorang perampok yang telah 55 kali beraksi.
“Saya merasa kejahatan saya biasa-biasa saja. Tapi sekarang saya kapok dan tak ingin meloloskan diri lagi.”
Kisah Slamet Gundul bukan sekadar cerita kriminal. Ini adalah potret era ketika aparat dipaksa berpacu dengan kecerdikan seorang bandit legendaris.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.