Jakarta, Sinata.id - Maskapai pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk kembali menghadapi turbulensi serius. Di tengah upaya bangkit pascarestrukturisasi, tekanan datang bersamaan dari dalam dan luar. Puluhan pesawat tak bisa terbang, sementara nilai tukar rupiah terus melemah. Kombinasi ini membuat kerugian perusahaan justru makin dalam.
Sepanjang 2025, Garuda mencatat rugi bersih sekitar US$319 juta, melonjak tajam dibanding tahun sebelumnya. Kondisi ini mempertegas bahwa pemulihan maskapai nasional tersebut belum sepenuhnya stabil.
Masalah utama justru ada di armada. Puluhan pesawat Garuda dilaporkan belum bisa dioperasikan karena masih menunggu jadwal perawatan.
Direktur Utama Garuda, Glenny Kairupan, mengakui kondisi ini berdampak langsung pada kinerja perusahaan.
“Penurunan kinerja dipengaruhi terbatasnya kapasitas produksi,” ujarnya, dikutip Kamis (19/3/2026).
Keterbatasan armada ini membuat frekuensi penerbangan menurun, kapasitas kursi berkurang, dan pada akhirnya pendapatan ikut tergerus. Bahkan, jumlah penumpang tercatat turun lebih dari 10% sepanjang tahun lalu.
Belum selesai dengan masalah operasional, Garuda juga harus menghadapi tekanan kurs rupiah.
Sebagian besar biaya maskapai, mulai dari sewa pesawat hingga bahan bakar, berbasis dolar AS. Ketika rupiah melemah, beban otomatis membengkak.
Garuda bahkan mencatat kerugian selisih kurs, berbanding terbalik dengan tahun sebelumnya yang sempat menikmati keuntungan dari faktor ini.
Kondisi ini memperlihatkan betapa rentannya industri penerbangan terhadap gejolak makroekonomi global.
Di sisi lain, pendapatan perusahaan juga mengalami penurunan. Sepanjang 2025, pendapatan konsolidasi tercatat turun sekitar 5–6 persen.
Namun ironisnya, beban operasional tidak ikut turun secara signifikan. Biaya tetap seperti perawatan, layanan bandara, dan operasional penerbangan tetap tinggi, bahkan meningkat seiring program pemulihan armada.
Akibatnya, ruang napas keuangan Garuda semakin sempit.
Pemerintah sebenarnya telah menggelontorkan dana jumbo untuk menyelamatkan Garuda, termasuk suntikan modal sekitar Rp23 triliun. Langkah ini sempat memperbaiki posisi ekuitas yang sebelumnya negatif.
Namun, suntikan dana itu belum cukup menahan laju kerugian dalam jangka pendek.
Artinya, persoalan Garuda bukan sekadar likuiditas, tetapi juga efisiensi operasional dan ketahanan terhadap faktor eksternal. [a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.