MENU
Tambalan Gigi Merkuri Dilarang Mulai 2034
WA FB
Berita

Tambalan Gigi Merkuri Dilarang Mulai 2034

R Editor : Redaksi Sinata | 09 Nov 2025 | 18:30 WIB
Tambalan Gigi Merkuri Dilarang Mulai 2034
Negara-negara peserta Konvensi Minamata di Jenewa resmi menyepakati larangan penggunaan, impor, dan ekspor tambalan gigi yang mengandung merkuri mulai tahun 2034. (Ist)

Sinata.id - Negara-negara peserta Konvensi Minamata tentang Merkuri di Jenewa sepakat melarang penggunaan, impor, dan ekspor tambalan gigi yang mengandung merkuri di seluruh dunia mulai tahun 2034, dalam keputusan bersejarah yang bertujuan melindungi kesehatan manusia dan lingkungan dari paparan bahan kimia berbahaya.

Langkah besar menuju dunia bebas merkuri akhirnya disepakati. Dalam konferensi internasional yang digelar di Jenewa, Jumat (8/11/2025), negara-negara peserta Konvensi Minamata tentang Merkuri menyetujui keputusan bersejarah, yakhi melarang penggunaan, impor, dan ekspor tambalan gigi yang mengandung merkuri secara global mulai tahun 2034.

Konvensi ini bukan sekadar rapat biasa. Nama “Minamata” sendiri membawa luka sejarah mendalam bagi Jepang, sebuah kota pesisir di Prefektur Kumamoto yang pada tahun 1950-an menjadi saksi bisu tragedi pencemaran merkuri.

Ribuan warga saat itu menderita gangguan saraf parah akibat mengonsumsi ikan yang telah tercemar limbah industri. Sejak tragedi itu, dunia mulai sadar bahwa bahan kimia yang tampak “biasa” bisa menyisakan racun mematikan bagi generasi mendatang.

Ketua konferensi, Osvaldo Alvarez dari Chile, menyebut keputusan tersebut sebagai “langkah besar bagi perlindungan kesehatan global.”

Namun, tidak semua pihak sepakat soal waktu penerapan. Amerika Serikat dan sejumlah negara Afrika mendorong agar larangan diberlakukan lebih cepat—yakni pada 2030.

Sayangnya, tekanan dari Inggris, India, dan Iran membuat tenggat waktu diperpanjang hingga 2034 dengan alasan biaya dan kesiapan teknologi bahan pengganti.

Sementara itu, beberapa negara sudah selangkah di depan. Uni Eropa resmi melarang tambalan gigi berbasis merkuri sejak Januari tahun ini.

Jepang pun telah mengurangi penggunaannya secara signifikan dalam sepuluh tahun terakhir.

Bahkan, sistem asuransi kesehatan di Negeri Sakura kini menanggung biaya tambalan alternatif yang lebih ramah lingkungan, seperti paduan galium.

Meski demikian, diskusi belum benar-benar usai. Para delegasi masih berdebat soal kelayakan ekonomi dan teknis bahan alternatif non-merkuri. Beberapa negara berkembang khawatir biaya tinggi akan membebani layanan kesehatan masyarakat. Pembahasan lanjutan dijadwalkan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

Sebagai catatan, Konvensi Minamata diadopsi pertama kali pada 2013 di Jepang, dengan tujuan melindungi kesehatan manusia dan lingkungan dari ancaman polusi serta emisi merkuri di seluruh dunia.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.