MENU
Tidak Ada yang Mustahil Saat Bersatu: Pelajaran Iman dari Menara Babel
WA FB
Religi

Tidak Ada yang Mustahil Saat Bersatu: Pelajaran Iman dari Menara Babel

F Editor : Ferry SP Sinamo | 21 Jan 2026 | 05:00 WIB
Tidak Ada yang Mustahil Saat Bersatu: Pelajaran Iman dari Menara Babel
Pastor Dion Panomban.

Oleh: PS Dion Panomban

Firman Tuhan dalam Kejadian 11:6c menyatakan, “tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.” Pernyataan ini disampaikan Allah (Bapa, Anak, dan Roh Kudus) ketika melihat manusia di Babel hidup dalam satu kesatuan dan kesepakatan.

Terlepas dari tujuan pembangunan menara yang keliru, Alkitab menegaskan adanya satu hal yang luar biasa, yaitu kekuatan kesepakatan dalam setiap pekerjaan yang mereka lakukan.

Pembacaan Alkitab: Kejadian 11:6–9 (TB) menggambarkan bagaimana satu bangsa dengan satu bahasa mampu membangun rencana besar secara kolektif, hingga Allah sendiri menyatakan bahwa apa pun yang mereka rencanakan tidak akan terhalang.

Namun, karena kesatuan tersebut tidak sejalan dengan kehendak Tuhan, Allah mengacaubalaukan bahasa mereka dan menyerakkan mereka ke seluruh bumi sebagai bentuk koreksi ilahi. Pertanyaan

Perenungan:

Apa makna pernyataan Allah, “tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana,” dalam konteks kesepakatan manusia di Babel? Mengapa Allah mengakui kekuatan kesatuan manusia, namun tetap menghentikan pembangunan Menara Babel? Apa perbedaan antara kesepakatan yang didorong oleh ambisi manusia dengan kesepakatan yang selaras dengan kehendak Tuhan? Dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan komunitas, kesepakatan seperti apa yang sedang kita bangun saat ini?

Bagaimana orang percaya dapat menjaga kesatuan tanpa kehilangan ketaatan kepada firman Tuhan?

Peristiwa Babel mengajarkan bahwa kesepakatan bukanlah hal yang netral.

Kesatuan dapat menjadi alat yang sangat kuat, baik untuk membangun maupun menghancurkan, tergantung pada tujuan dan dasar rohaninya. Allah tidak menolak persatuan, tetapi Ia menuntun umat-Nya agar kesatuan itu berada dalam koridor kebenaran dan kerendahan hati.

Dalam konteks kehidupan orang percaya masa kini, firman ini menjadi panggilan untuk membangun kesepakatan yang berpusat pada Tuhan. Kesatuan yang dilandasi iman, kasih, dan ketaatan akan membuka jalan bagi pekerjaan Tuhan yang nyata dalam kehidupan bersama.

Kesepakatan adalah kekuatan besar yang Tuhan perhatikan dengan sungguh-sungguh.

Oleh sebab itu, marilah kita membangun persatuan yang benar, bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk memuliakan Tuhan, sehingga setiap rencana yang kita sepakati menjadi alat berkat dan perwujudan kehendak-Nya di tengah dunia. (A27)

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.