MENU
Tiga Bulan Pascabanjir Bandang, Anak-Anak Aceh Terpaksa Belajar di Ruk...
WA FB
News

Tiga Bulan Pascabanjir Bandang, Anak-Anak Aceh Terpaksa Belajar di Ruko dan Tenda Darurat

R Editor : Redaksi Sinata | 01 Mar 2026 | 19:48 WIB
Tiga Bulan Pascabanjir Bandang, Anak-Anak Aceh Terpaksa Belajar di Ruko dan Tenda Darurat
Sudah tiga bulan banjir bandang melanda Aceh, namun sejumlah siswa masih belajar di ruko dan tenda darurat karena sekolah rusak berat dan belum direnovasi. (Ist)

Pidie Jaya, Sinata.id — Hampir tiga bulan selepas bencana banjir bandang menghantam wilayah Aceh akhir November 2025, pemandangan aktivitas belajar mengajar di sejumlah komunitas kini berubah drastis. Puluhan anak yang rumah dan ruang kelasnya hancur kini harus menempuh pendidikan di ruang ruko yang disulap menjadi sekolah sementara dan tenda-tenda darurat di tengah puing sisa bencana. Keadaan ini memicu keprihatinan sekaligus kekaguman terhadap semangat anak-anak belajar di tengah keterbatasan.

Perubahan drastis tersebut diungkapkan oleh Meicy Villia atau yang lebih dikenal sebagai Vilmei, influencer sekaligus relawan relasi bencana yang baru-baru ini kembali mengunjungi lokasi terdampak. Dalam unggahan terbaru di Instagram pribadinya, @vilmei, ia menyatakan bahwa banyak bangunan sekolah mengalami kerusakan berat dan sulit diperbaiki kembali sebagai ruang kelas.

“Banyak sekolah yang sudah tidak bisa direnovasi di Aceh,” ujarnya, menyoroti kondisi pendidikan pascabencana yang masih jauh dari normal. Sekolah Darurat di Tengah Pemulihan Karena gedung pendidikan sebagian besar tak layak pakai, Vilmei menyaksikan sendiri bagaimana aktivitas belajar dipindahkan ke ruko kosong di sejumlah jalan utama, sementara tenda darurat menjadi markas sekolah sementara bagi murid-murid di beberapa desa. Meski sederhana, kegiatan belajar tetap berjalan demi menjaga hak pendidikan anak.

Fenomena ini bukan tanpa catatan resmi. Sebelumnya pemerintah dan berbagai lembaga telah mencatat ribuan sekolah terdampak berat, sehingga pembelajaran tatap muka sempat harus disesuaikan dengan kelas darurat, sistem pengajaran sif, bahkan relokasi ke tempat sementara yang lebih aman. Kepedulian Komunitas di Masa Sulit Semangat anak-anak Aceh tak hanya menarik perhatian netizen, tetapi juga memicu aksi komunitas lain untuk membantu. Mahasiswa dan relawan pendidikan dari berbagai daerah telah menyediakan pojok literasi dan sudut baca portabel di beberapa titik pengungsian, untuk mendukung pemulihan psikososial anak setelah trauma bencana.

Selain itu, program bantuan hunian sementara juga mulai berjalan meski belum merata. Dalam unggahan lain, Vilmei menyebut ada sekitar 137 unit rumah sementara yang tengah dibangun untuk warga yang kehilangan tempat tinggal. Realita Pascabencana yang Belum Selesai Kondisi ini menunjukkan bahwa proses pemulihan Aceh jauh dari selesai. Ribuan warga masih bertahan di tenda pengungsian, bahkan memadukan kehidupan baru mereka dengan aktivitas sehari-hari termasuk sekolah. Data pemerintah juga mencatat lebih dari 12 ribu warga yang masih membutuhkan percepatan bantuan logistik, khususnya menjelang bulan Ramadhan yang berjalan dalam kondisi darurat.

Tag :
ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.