MENU
Tiga Pekan Tanpa Listrik, Tangis Haru Pengungsi Bener Meriah Pecah Saa...
WA FB
News

Tiga Pekan Tanpa Listrik, Tangis Haru Pengungsi Bener Meriah Pecah Saat Genset Jadi Harapan

R Editor : Redaksi Sinata | 17 Dec 2025 | 16:31 WIB
Tiga Pekan Tanpa Listrik, Tangis Haru Pengungsi Bener Meriah Pecah Saat Genset Jadi Harapan
Video viral memperlihatkan momen haru pengungsi Bener Meriah, Aceh Tengah, saat listrik kembali menyala setelah 21 hari hidup tanpa listrik. (Screenshot)

Sinata.id - Setelah hampir tiga pekan hidup tanpa listrik dan dalam keterbatasan, secercah harapan akhirnya menyala di lokasi pengungsian Bener Meriah, Aceh Tengah. Bukan dalam bentuk bantuan besar, melainkan lewat cahaya lampu yang kembali menerangi aktivitas warga setelah 21 hari gelap gulita akibat terputusnya aliran listrik.

Momen penuh emosi itu terekam dalam sebuah video yang beredar luas di media sosial.

Dilihat pada Rabu (17/12/2025), rekaman yang diunggah akun TikTok @zaits_bf, menggambarkan suasana dapur umum yang selama ini menjadi pusat denyut kehidupan para pengungsi.

Di awal video, dapur tampak hanya diterangi cahaya seadanya.

Para ibu terlihat tetap bekerja, menyiapkan makanan bagi ratusan pengungsi, meski harus bergulat dengan keterbatasan fasilitas.

Di tengah suasana itu, seorang relawan terdengar menyemangati para ibu agar tetap bersabar dan fokus melanjutkan aktivitas memasak.

Tak berselang lama, suara mesin genset memecah keheningan.

Beberapa detik kemudian, lampu yang semula mati mendadak menyala dan menerangi seluruh ruangan.

Seketika, suasana berubah drastis.

Raut lelah yang sebelumnya tampak di wajah para ibu berganti dengan ekspresi lega dan haru.

Ucapan syukur pun menggema di dapur umum tersebut, diiringi suara takbir dan doa yang dilantunkan spontan.

Momen sederhana itu menjadi simbol kelegaan setelah berminggu-minggu bertahan dalam kondisi serba terbatas.

Meski pasokan listrik yang hadir hanya bersumber dari genset, kehadirannya memberikan dampak besar bagi psikologis para pengungsi.

Lampu yang menyala bukan sekadar alat penerangan, tetapi penanda bahwa perhatian dan bantuan benar-benar hadir di tengah kesulitan mereka.

Antusiasme warga pun menyebar cepat.

Kabar tentang menyalanya lampu segera disampaikan kepada para pengungsi lain yang berada di tenda-tenda dan ruang perawatan.

Seruan penuh semangat terdengar dari satu sudut ke sudut lain, menandai kembalinya aktivitas malam yang selama ini terhenti.

Bagi warga Bener Meriah, cahaya yang menyala setelah 21 hari bukan hanya mengusir gelap, tetapi juga menghadirkan kembali harapan.

Di tengah bencana dan keterbatasan, lampu yang berpijar menjadi simbol bahwa kehidupan perlahan mulai bergerak kembali. [a46]

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.