MENU
Tol Sepi, Tarif Tinggi: Pakar Bongkar ‘Optimisme Semu’ di Balik Proyek...
WA FB
Nasional

Tol Sepi, Tarif Tinggi: Pakar Bongkar ‘Optimisme Semu’ di Balik Proyek Infrastruktur Triliunan Rupiah

R Editor : Redaksi Sinata | 09 Nov 2025 | 18:41 WIB
Tol Sepi, Tarif Tinggi: Pakar Bongkar ‘Optimisme Semu’ di Balik Proyek Infrastruktur Triliunan Rupiah
Sejumlah ruas jalan tol di Indonesia sepi pengguna karena tarif mahal dan perencanaan yang tidak realistis. (detikfinance)

Sinata.id - Tarif selangit dan konektivitas yang belum nyambung disebut menjadi biang kerok di balik sepinya arus lalu lintas di sejumlah ruas jalan tol di Indonesia, meski telah beroperasi penuh.

Direktur Eksekutif Pusat Kajian Infrastruktur Strategis (PUKIS), MM Gibran Sesunan, mengungkap persoalan utama bukan sekadar soal tarif mahal, tapi lebih dalam, perencanaan yang terlalu percaya diri.

Pakar infrastruktur ini menilai kondisi ini disebabkan oleh perencanaan yang tidak realistis dalam studi kelayakan proyek, sehingga banyak tol gagal memenuhi target trafik dan merugikan investasi negara.

“Banyak studi kelayakan dibuat dengan optimisme berlebihan, seolah seluruh masyarakat akan beralih ke tol begitu dibangun. Padahal, proyeksi itu jauh dari realita di lapangan,” ujarnya tegas di Jakarta, Sabtu (8/11).

21 Tol Sepi Pengguna

Kritik Gibran muncul setelah Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengakui bahwa ada 21 ruas jalan tol di Indonesia yang tingkat trafiknya masih di bawah 50 persen dari proyeksi awal dalam Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT).

Angka tersebut diambil dari data realisasi sepanjang tahun 2024, dan hasilnya bikin dahi berkerut.

Ruas-ruas tol yang sepi ini, kata Gibran, merupakan cermin dari perencanaan infrastruktur yang tidak matang.

“Kalau dasar perhitungannya tidak realistis, hasilnya jelas akan meleset. Banyak proyek akhirnya merugi dan gagal memenuhi standar pelayanan minimum,” tambahnya.

Tarif Mahal, Logistik Menjerit

Salah satu contoh nyata adalah Tol Manado–Bitung, di mana kendaraan golongan I dikenakan tarif hingga Rp1.200 per kilometer. Bayangkan, untuk perjalanan penuh, sopir truk harus merogoh kocek besar, sesuatu yang tentu saja memberatkan sektor logistik.

Tak hanya di Sulawesi, fenomena serupa juga terjadi di Bengkulu–Taba Penanjung, Krian–Legundi–Bunder–Manyar, hingga Kanci–Pejagan. Banyak pengemudi lebih memilih jalan biasa ketimbang masuk ke tol yang dianggap tidak “ramah dompet”.

Tol Tak Nyambung ke Pusat Ekonomi

Lebih jauh, Gibran menyoroti akar masalah lain yang sering luput: konektivitas.

Banyak ruas tol dibangun tanpa koneksi langsung ke kawasan industri, pelabuhan, atau pusat ekonomi setempat.

Tag :
ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.