Washington, Sinata.id – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan penghentian sementara Proyek Freedom, yakni operasi militer AS yang bertujuan mengawal kapal keluar dari Selat Hormuz.
Keputusan tersebut disampaikan Trump pada Selasa (5/5/2026) melalui platform media sosial Truth Social. Ia menyebut langkah itu diambil untuk memberi ruang bagi upaya penyelesaian kesepakatan damai antara Washington dan Teheran.
“Meski blokade tetap diberlakukan sepenuhnya, Proyek Freedom akan ditangguhkan sementara untuk melihat apakah kesepakatan dapat difinalisasi dan ditandatangani,” tulis Trump.
Trump menjelaskan, keputusan tersebut juga dipengaruhi permintaan dari Pakistan serta sejumlah negara lain, di tengah klaim adanya kemajuan signifikan menuju kesepakatan komprehensif dengan Iran.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa operasi militer ofensif terhadap Iran yang dilancarkan bersama Israel sejak 28 Februari telah berakhir.
Operasi tersebut, yang dikenal sebagai “Epic Fury”, disebut telah mencapai tujuannya. Washington kemudian mengalihkan fokus pada Proyek Freedom untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang sangat vital bagi distribusi energi global.
“Operasi telah berakhir. Kami telah menyelesaikan tahap itu,” ujar Rubio kepada wartawan di Gedung Putih.
Ia menegaskan bahwa bentrokan di Selat Hormuz bukan bagian dari operasi ofensif, melainkan langkah defensif.
“Tidak ada tembakan kecuali kami diserang terlebih dahulu,” tegasnya.
Ketegangan di kawasan tersebut meningkat dalam beberapa pekan terakhir, dengan laporan saling serang antara Iran dan pasukan AS. Washington mengklaim telah menenggelamkan sejumlah kapal Iran, sementara Teheran menyatakan berhasil menyerang kapal AS.
Serangan militer antara AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari dilaporkan menewaskan sejumlah tokoh penting, termasuk pemimpin tertinggi Iran, serta menghancurkan sejumlah fasilitas militer dan ekonomi strategis.
Namun, serangan tersebut tidak menyebabkan runtuhnya pemerintahan Iran. Sebagai balasan, Teheran meluncurkan serangan rudal dan drone ke berbagai wilayah yang memiliki kepentingan AS dan Israel di Timur Tengah.
Pada 8 April, Trump mengumumkan gencatan senjata dengan Iran yang kemudian diperpanjang, meski proses negosiasi sempat mengalami kebuntuan.
Rubio menambahkan bahwa Amerika Serikat telah mencapai tujuan militernya, namun tetap membuka peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.