“Rakyat Iran membayar harga yang terlalu mahal atas penegasan kemerdekaan nasional versi ini,” kata Nasr. “Dalam prosesnya, Khamenei kehilangan dukungan sebagian besar masyarakat.”
Dari Pragmatis ke Konfrontatif
Meski dikenal keras, Khamenei juga menunjukkan sikap pragmatis. Ia menyetujui perjanjian nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) guna meredakan tekanan ekonomi akibat sanksi.
Namun keputusan AS di era Trump yang menarik diri dari kesepakatan tersebut membuat Khamenei kembali mengambil sikap konfrontatif dan menolak dialog dengan Washington.
Ia kemudian mendorong strategi “bukan damai, bukan perang” serta memperkuat jaringan sekutu regional yang dikenal sebagai poros perlawanan, termasuk Hezbollah, Hamas, dan Houthi movement. Strategi ini menjadikan Iran pemain kunci dalam konflik kawasan sekaligus target utama Israel.
Ketegangan meningkat setelah perang Israel–Hamas dan rangkaian serangan Israel terhadap target Iran serta sekutunya. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan sempat secara terbuka mengancam akan membunuh Khamenei.
Dalam salah satu pidatonya, Khamenei menegaskan Iran tidak akan tunduk.
“Bangsa Iran tidak akan menyerah. Intervensi militer AS akan membawa kerusakan yang tak bisa diperbaiki,” katanya.
Simbol Perlawanan
Bagi para pendukungnya, Khamenei merupakan simbol keteguhan melawan tekanan Barat dan Israel. Namun bagi para pengkritik, ia dinilai semakin terputus dari realitas generasi muda Iran yang menginginkan reformasi serta perbaikan ekonomi, bukan isolasi dan konflik berkepanjangan.
Jika kabar wafatnya benar, peristiwa ini berpotensi menjadi titik balik terbesar dalam sejarah Republik Islam Iran sejak 1979. (A02)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.