MENU
Trump Klaim AS Jajaki Kesepakatan dengan Kuba di Tengah Tekanan Ekonom...
WA FB
Dunia

Trump Klaim AS Jajaki Kesepakatan dengan Kuba di Tengah Tekanan Ekonomi

J Editor : Jansen Siahaan | 02 Feb 2026 | 13:42 WIB
Trump Klaim AS Jajaki Kesepakatan dengan Kuba di Tengah Tekanan Ekonomi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (afp)

Florida, Sinata.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya tengah menjalin komunikasi dengan pimpinan Kuba untuk mencapai sebuah kesepakatan.

Pernyataan itu disampaikan pada Minggu (1/2/2026), hanya beberapa hari setelah Trump mengancam perekonomian Kuba dengan kebijakan yang disebut sebagai blokade minyak.

Berbicara kepada wartawan di resor pribadinya, Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida, Trump menyebut Kuba telah lama berada dalam kondisi gagal sebagai sebuah negara. Ia menilai situasi tersebut kini semakin memburuk setelah Kuba tidak lagi mendapatkan dukungan dari Venezuela.

“Kuba adalah negara yang gagal. Sudah lama demikian, tetapi sekarang mereka tidak lagi memiliki Venezuela untuk menopang mereka. Jadi kami sedang berbicara dengan orang-orang dari Kuba, orang-orang paling atas di Kuba, untuk melihat apa yang akan terjadi. Saya rasa kita akan mencapai kesepakatan dengan Kuba,” ujar Trump, seperti dikutip dari Channel News Asia (CNA).

Pada pekan lalu, Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengancam akan mengenakan tarif tambahan terhadap negara-negara yang menjual minyak ke Kuba. Sehari setelah kebijakan tersebut diumumkan, warga Kuba dilaporkan mulai mengantre panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di Havana.

Sementara itu, Kuasa Usaha AS untuk Kuba sejak 2024, Mike Hammer, mengungkapkan bahwa saat kunjungannya ke Provinsi Trinidad di Kuba bagian tengah, ia mendapat teriakan dan hinaan dari sekelompok orang. Pernyataan itu disampaikan Hammer melalui sebuah video yang diunggah di platform X.

“Saya pikir mereka berasal dari kelompok politik tertentu, tetapi saya tahu mereka tidak mewakili rakyat Kuba secara umum,” kata Hammer, merujuk pada Partai Komunis Kuba.

Menanggapi insiden tersebut, Biro Urusan Belahan Barat Kementerian Luar Negeri AS menyatakan bahwa rezim Kuba yang mereka sebut tidak sah harus menghentikan tindakan represif berupa pengiriman individu untuk mengganggu aktivitas diplomatik Hammer dan staf Kedutaan Besar AS di Kuba.

“Para diplomat kami akan terus bertemu dengan rakyat Kuba meskipun rezim ini melakukan intimidasi yang tidak efektif,” tulis pernyataan tersebut.

Trump dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang memiliki latar belakang keluarga pengungsi Kuba, secara terbuka menyatakan keinginan untuk mendorong perubahan rezim di Havana. Setelah perubahan kepemimpinan di Venezuela, Trump bahkan memperingatkan pemerintah Kuba agar segera membuat kesepakatan atau menghadapi konsekuensi yang tidak dirinci.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.