Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Ramesh Lekhak juga mengajukan pengunduran diri setelah menerima kritik tajam atas cara aparat menangani demonstran.
Akar Masalah Demonstrasi Nepal
Sejumlah analis menilai protes ini tidak hanya dipicu larangan media sosial, tetapi juga kekecewaan mendalam terhadap praktik nepotisme, korupsi, dan kesenjangan sosial.
Istilah “nepo kids” atau anak-anak pejabat yang pamer gaya hidup mewah sempat menjadi trending di media sosial Nepal.
Video dan foto yang menunjukkan kerabat pejabat berpose dengan mobil mewah, jam tangan mahal, hingga liburan ke luar negeri menambah bara amarah rakyat.
Di sisi lain, mayoritas masyarakat hidup dalam kemiskinan dengan pendapatan per kapita sekitar 1.400 dolar AS per tahun, salah satu yang terendah di Asia Selatan.
“Fenomena ‘nepo kids’ mencerminkan frustrasi publik terhadap kelas politik yang dulu hidup sederhana, kini berubah menjadi elit dengan privilese berlebihan,” ujar akademisi Yog Raj Lamichhane dari Universitas Pokhara.
Gen Z di Garda Depan
Gelombang protes ini banyak didorong oleh kelompok muda yang menamakan diri sebagai “Gerakan Gen Z”. Mereka menolak praktik korupsi, mengkritik lambatnya pembangunan, serta menuntut transparansi dalam penggunaan dana publik.
Kondisi ini diperparah dengan tingkat pengangguran pemuda yang mencapai 32,6 persen pada 2024, jauh lebih tinggi dibanding negara tetangga. Banyak generasi muda Nepal terpaksa merantau ke luar negeri demi mencari pekerjaan, membuat remitansi menjadi penyumbang lebih dari 30 persen PDB nasional.
Sejumlah pihak menilai Nepal kini memasuki fase transisi politik yang krusial. Pengacara konstitusi Dipendra Jha menyarankan dibentuknya pemerintahan sementara untuk meredakan ketegangan.
Sementara analis Crisis Group, Ashish Pradhan, menekankan pentingnya melibatkan tokoh-tokoh yang masih memiliki legitimasi di mata rakyat, khususnya generasi muda.
Wali Kota Kathmandu, Balendra Shah, yang dikenal dekat dengan kelompok muda, menyerukan agar protes tidak berkembang menjadi kekerasan lebih lanjut. “Ini adalah gerakan murni generasi muda. Kita perlu menjaga agar aspirasi mereka tidak dicemari kekerasan,” tulisnya melalui akun Facebook. (A46)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.