Nusa Tenggara Timur, Sinata.id — Media sosial kembali bergolak. Sebuah video memperlihatkan seekor burung malam ditembak mati di sebuah permukiman di Nusa Tenggara Timur (NTT). Alasannya terdengar sepele namun memantik amarah publik: suara burung itu disebut mengganggu waktu tidur.
Rekaman berdurasi singkat tersebut menyebar cepat lintas platform. Dalam video, tampak seorang perempuan meluapkan kekesalannya, sementara beberapa pria menangkap burung yang kemudian ditembak dari jarak dekat. Detik berikutnya, burung itu tergeletak tak bernyawa. Video berhenti, tapi kemarahan warganet justru baru dimulai.
Suara perempuan dalam video itu terdengar jelas menyampaikan keluhan. Ia menyebut burung tersebut kerap berbunyi di malam hari hingga membuatnya tidak bisa tidur nyenyak. Kalimat itu justru menjadi pemantik reaksi keras publik yang menilai tindakan tersebut kejam dan tak beralasan.
Unggahan video itu langsung dibanjiri komentar. Banyak warganet menyebut peristiwa tersebut sebagai potret minimnya kesadaran perlindungan satwa. Tagar kecaman bermunculan, menuntut aparat bertindak cepat dan tegas.
Sorotan kian tajam setelah diketahui burung yang ditembak diduga adalah burung hantu manguni, satwa yang selama ini lekat dengan mitos sekaligus memiliki peran penting dalam ekosistem. Dalam hitungan jam, video itu tak hanya viral, tapi juga berubah menjadi “sidang publik” di dunia maya.
Respons aparat tak lama berselang. memastikan telah melakukan penelusuran awal terkait lokasi dan identitas pihak-pihak dalam video. Pihak balai menegaskan, tindakan membunuh satwa liar tanpa dasar hukum jelas berpotensi melanggar aturan perlindungan satwa.
“Kami sudah berkoordinasi dengan kepolisian. Kasus ini menjadi perhatian serius karena menyangkut dugaan perburuan dan pembunuhan satwa,” ujar perwakilan BBKSDA NTT dalam keterangannya.
Dari sisi penegakan hukum, menyatakan tengah mengumpulkan keterangan dan bukti tambahan. Aparat menelusuri asal senjata, peran masing-masing orang dalam video, hingga kemungkinan pelanggaran pidana yang menyertainya.
“Peristiwa ini sedang kami dalami. Semua yang terlibat akan dimintai klarifikasi,” kata perwakilan kepolisian.
Di tengah proses hukum yang berjalan, video tersebut terus bergulir di linimasa, memicu diskusi luas soal relasi manusia dan satwa liar. Banyak pihak menilai insiden ini menjadi cermin bahwa edukasi lingkungan masih menjadi pekerjaan rumah besar, terutama di wilayah yang berdekatan langsung dengan habitat satwa.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.