Jakarta, Sinata.id - Sorotan tajam kembali diarahkan pada Generasi Z. Di tengah dominasi teknologi dan gaya belajar serba digital, sebuah pernyataan dari ahli saraf asal Amerika Serikat memicu perdebatan global. Generasi yang tumbuh bersama layar kini disebut-sebut menghadapi penurunan kemampuan kognitif dibanding generasi sebelumnya.
Adalah Dr. Jared Cooney Horvath, pakar neurosains dari Amerika Serikat, yang mengungkapkan temuan mengejutkan tersebut. Ia menilai, Gen Z menjadi generasi pertama dalam sejarah modern yang mencatatkan skor lebih rendah dalam tes akademik standar jika dibandingkan dengan generasi Milenial.
“Mereka adalah generasi pertama yang nilainya berada di bawah generasi sebelumnya dalam pengukuran akademik resmi,” ujar Jared, seperti dikutip dari New York Post, Selasa (10/2/2026).
Menurut Jared, temuan itu bukan sekadar opini, melainkan hasil analisis berbasis data dari berbagai pengujian akademik lintas tahun. Ia menyebut perubahan besar terjadi sejak dunia pendidikan bergeser dari buku ke layar.
Gen Z, yang lahir sekitar 1997 hingga 2010, disebut sebagai generasi pertama yang tumbuh dengan paparan gawai sejak usia dini. Dari mengerjakan tugas, mencari referensi, hingga hiburan, semua dilakukan melalui satu layar.
“Waktu menatap ponsel kini menjadi sesuatu yang konstan. Lebih dari setengah waktu remaja dihabiskan di depan layar,” jelasnya.
Jared menegaskan, secara biologis manusia dirancang untuk belajar lewat interaksi langsung dan proses membaca mendalam, bukan melalui ringkasan instan di layar digital.
“Belajar lewat layar membuat mereka terbiasa membaca sekilas. Padahal tanpa usaha yang sungguh-sungguh, bahkan pikiran yang cemerlang bisa menjadi tumpul,” katanya.
Ia juga menyoroti kebiasaan sebagian pelajar yang mengklaim membaca karya klasik, namun sebenarnya hanya menyimak ringkasan singkat di internet. Pola ini dinilai menggerus kemampuan berpikir kritis dan daya tahan fokus.
Sebaliknya, Jared membandingkan dengan gaya belajar generasi Milenial yang terbiasa membuka buku tebal, mencatat, dan menghabiskan malam untuk memahami materi.
“Dulu, anak-anak harus membuka buku dan begadang untuk lulus ujian,” ujarnya. [a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.