Palu, Sinata.id — Sebuah video yang beredar luas di media sosial menjadi perhatian publik nasional pada Selasa (24/2/2026). Dalam rekaman itu, seorang guru di SDN 6 Kayumalue Ngapa, Kota Palu, Sulawesi Tengah, mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap isi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan kepada siswa pada hari pertama masuk sekolah di bulan Ramadan. Kritikan tersebut memicu perdebatan mengenai kualitas dan standar gizi program yang digagas oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Unggahan akun Instagram @andreli_48 yang kini viral memperlihatkan guru tersebut membuka paket MBG yang diterima siswa pada Senin, 23 Februari 2026. Dalam rekaman, ia menunjuk isi paket sambil menjelaskan:
“Ini menu hari ini (Senin) ada susu, dua pisang, roti yang harga seribuan, dan empat butir telur puyuh,” katanya.
Tak hanya itu, guru itu juga menunjukkan bahwa paket tersebut merupakan jatah untuk dua hari sekaligus — hari Senin dan Selasa. “Menu Selasa isinya roti seribuan, tiga kurma, dan satu bungkus kacang seharga Rp1.500,” lanjutnya dalam video yang kemudian ramai diperbincangkan netizen.
Kritik pedas muncul karena menurut sang guru, komposisi makanan tersebut tidak mencerminkan anggaran per porsi sebesar Rp15.000 per hari, sebagaimana yang disosialisasikan dalam program MBG. Ia bahkan menyerukan kepada pemangku kebijakan untuk memperhatikan masalah ini.
“Ini yang dimaksud MBG anggarannya Rp15.000 per hari? Kasihan ya… tolong Bapak Wali Kota, Bapak Gubernur, dan Bapak Presiden agar hal ini jadi perhatian. Kalau seperti ini kan namanya pembodohan, Pak,” tegasnya.
Sejumlah unggahan lainnya juga memperlihatkan sorotan soal MBG dari berbagai daerah yang menuai komentar netizen, khususnya terkait kandungan gizi dan proporsi makanan yang diberikan anak selama Ramadan. Banyak warganet mempertanyakan apakah menu tersebut benar-benar cukup untuk kebutuhan nutrisi siswa yang sedang berpuasa.
Diskusi online semakin menarik karena sebagian publik merasa program ini perlu dievaluasi agar lebih transparan dan sesuai tujuan awalnya, yaitu memastikan asupan gizi yang layak bagi peserta didik. Komentar pedas hingga seruan agar pemerintah daerah dan pusat merespons kritik ini banyak bermunculan di berbagai platform.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.