MENU
Warga Nagori Mariah Jambi Tak Menunggu Pemerintah, Jembatan Ambruk Dib...
WA FB
News

Warga Nagori Mariah Jambi Tak Menunggu Pemerintah, Jembatan Ambruk Dibangun Sendiri

T Editor : Tumpal Pandapotan | 28 May 2025 | 15:21 WIB
Warga Nagori Mariah Jambi Tak Menunggu Pemerintah, Jembatan Ambruk Dibangun Sendiri
Jembatan penghubung antar nagori yang ambruk. (Foto: Akbar Harahap)

Simalungun, Sinata.id - Warga Nagori Mariah Jambi, Kecamatan Jawa Maraja Bahjambi, Kabupaten Simalungun, memulai pembangunan jembatan penghubung secara swadaya setelah jembatan tersebut ambruk sejak Februari 2025 dan belum mendapat perhatian dari pemerintah kabupaten maupun pemerintah nagori setempat.

Saat ini, warga juga telah membangun jembatan darurat dari kayu untuk bisa dilalui pejalan kaki dan sepeda motor.

Ketua panitia pembangunan M Amin menyampaikan bahwa proyek telah berjalan hampir satu bulan dan hingga kini dana yang terkumpul telah mencapai sekitar Rp 200 juta.

“Kalau sampai selesai, mungkin akan menghabiskan sekitar Rp 700 juta,” ujarnya pada Selasa (28/5/2025).

Jembatan ini merupakan akses vital yang menghubungkan Nagori Senio, Kecamatan Gunung Malela, dengan Nagori Mariah Jambi, Kecamatan Jawa Maraja Bahjambi.

Jembatan tersebut menjadi jalur utama masyarakat untuk berbagai aktivitas, termasuk akses anak-anak ke sekolah, warga yang bekerja di luar nagori, hingga distribusi hasil pertanian seperti jagung dan mentimun.

“Ada jalan alternatif, tapi harus memutar sekitar 6 kilometer lewat simpang Batu 8. Kalau lewat sini, hanya sekitar 400 meter ke simpang Batu 13 Jalan Asahan,” tuturnya.

Selain sebagai jalur aktivitas warga, jembatan ini juga menjadi akses utama menuju objek wisata lokal, Pemandian Alam Sejuk (PAS), yang terletak di Nagori Mariah Jambi. Dampak dari kerusakan jembatan ini juga dirasakan sektor pariwisata.

“Pengunjung PAS turun 50 persen. Biasanya 10.000 orang per bulan, sekarang paling banyak 5.000,” tambahnya.

Meski pemerintah daerah dan pihak kecamatan sudah sempat meninjau lokasi melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), hingga kini belum ada kejelasan mengenai penanganan dari pihak berwenang.

“Kita tau lah bagaimana proses pemerintahan. Karena itu, masyarakat memilih bergerak sendiri demi kepentingan bersama,” ujarnya.

Sementara itu, pengawas pembangunan A Purba menyebutkan bahwa selain memperbaiki, mereka juga berencana melebarkan jembatan. “Untuk struktur utama, kami pakai balok T dari besi. Saat ini sudah tersedia 60 balok, dan kalau ingin dilebarkan semua, total dibutuhkan sekitar 200 balok,” jelasnya.

Struktur pondasi juga diperkuat dengan campuran bata dan cor besi agar lebih tahan beban. Jembatan lama yang dibangun sejak awal 1900-an diketahui tidak menggunakan besi dalam pondasinya. “Sekarang sudah menggunakan cor-an dan besi, dan diperkirakan mampu menahan beban hingga 5 ton,” ucapnya.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.