MENU
πŸ“Siantar πŸ“Simalungun πŸ“Medan πŸ“Singkil πŸ“Taput πŸ“Sibolga
Warga Soroti Pengelolaan Dana BUMDes Jahe Mulana Rp143 Juta di Taput
WA FB
Regional

Warga Soroti Pengelolaan Dana BUMDes Jahe Mulana Rp143 Juta di Taput

G Editor : Gunawan Purba | 21 May 2026 | 18:33 WIB
Warga Soroti Pengelolaan Dana BUMDes Jahe Mulana Rp143 Juta di Taput
Lahan yang dikelola BUMDes Jahe Mulana

Taput, Sinata.id - Warga Desa Siabal-abal V, Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Sumatera Utara soroti pengelolaan dana penyertaan modal Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Jahe Mulana Tahun 2025 sebesar Rp143 juta.

Warga menduga pengelolaan dana bermasalah, seiring dengan hasil panen dari pengelolaan lahan dinilai cukup kecil dibanding dana penyertaan modal yang diterima BUMDes tersebut

Sorotan warga muncul setelah usaha pertanian bawang merah yang dikelola BUMDes tersebut hanya menghasilkan pendapatan panen sebesar Rp10,8 juta pada tahun 2026 dari lahan seluas 17 rante.

Seorang warga sekitar, J Simanjuntak mengatakan, persoalan tersebut telah menjadi perbincangan luas di tengah masyarakat karena dinilai tidak sebanding antara modal yang dikucurkan dengan hasil panen yang diperoleh.

β€œDana penyertaan BUMDes tahun 2025 sebesar Rp143 juta, tetapi hasil panen hanya Rp10,8 juta. Ini menjadi pembahasan masyarakat karena diduga ada penyimpangan anggaran,” ujar Simanjuntak.

Warga juga menduga adanya pengadaan barang dengan harga tidak wajar dalam pengelolaan usaha tersebut. Mereka meminta aparat penegak hukum (APH) menggelar penyelidikan terhadap penggunaan dana BUMDes Jahe Mulana.

Katanya, kecurigaan masyarakat semakin menguat setelah Sekretaris dan Bendahara BUMDes mengundurkan diri dari kepengurusan. Kondisi itu membuat pengelolaan kegiatan BUMDes diduga dikendalikan sepenuhnya oleh Ketua BUMDes, Parlindungan Pardede.

Saat dikonfirmasi pada Kamis (21/5/2026), Ketua BUMDes Jahe Mulana, Parlindungan Pardede membenarkan pihaknya menerima dana penyertaan modal sebesar Rp143 juta dan hasil panen bawang merah hanya mencapai Rp10,8 juta.

Menurutnya, rendahnya hasil produksi disebabkan faktor cuaca, terutama tingginya curah hujan yang menyebabkan banyak tanaman rusak.

β€œKarena musim hujan, banyak tanaman yang rusak. Untuk lahan BUMDes luasnya sekitar 17 rante dan dikontrak Rp2 juta per tahun,” jelas Parlindungan.

Terkait pengunduran diri sekretaris dan bendahara BUMDes, ia mengaku tidak mengetahui alasan pasti keduanya memilih mundur dari kepengurusan. (SN15)

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.