Oleh: PS Dion Panomban
Fenomena saling mengejek, merendahkan, hingga mencemooh sesama semakin mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku tersebut tidak hanya terjadi di lingkungan sosial dan media digital, tetapi juga dapat muncul di tengah kehidupan orang percaya.
Melalui perenungan saat teduh Abba Home Family, Kamis (11/6/2026), umat diajak untuk mewaspadai munculnya “roh pengejek” yang menjadi salah satu tantangan rohani di akhir zaman.
Pesan tersebut diangkat dari pembacaan Firman Tuhan dalam Yudas 1:20-23 yang menekankan pentingnya membangun iman, hidup dalam kasih Allah, serta menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang lemah dan ragu-ragu.
Pengejek dan Bahaya yang Mengintai
Dalam perenungan tersebut dijelaskan bahwa pengejek adalah pribadi yang merendahkan kebenaran, sesama manusia, bahkan Allah melalui perkataan maupun tindakan yang menghina dan mencemooh.
Sikap tersebut lahir dari hati yang dipenuhi kesombongan, hawa nafsu, dan ketidaktaatan kepada Tuhan. Roh pengejek tidak hanya muncul di luar kehidupan gereja, tetapi juga dapat menyusup ke dalam komunitas orang percaya.
Karena itu, setiap umat diminta untuk menjaga hati, perkataan, dan persekutuan agar tidak dipengaruhi oleh sikap yang dapat merusak persatuan dan kasih.
Membangun Kehidupan di Atas Dasar Iman
Firman Tuhan dalam Yudas 1:20 mengingatkan:
"Bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus."
Ayat ini menegaskan bahwa salah satu cara menghindari pengaruh roh pengejek adalah membangun kehidupan rohani yang kuat melalui iman dan doa.
Orang percaya dipanggil untuk terus bertumbuh dalam Firman Tuhan, menjaga hati, serta membiarkan Roh Kudus memimpin setiap perkataan dan tindakan.
Doa dalam Roh Kudus bukan sekadar rangkaian kata-kata, melainkan doa yang lahir dari hubungan yang intim dengan Tuhan, penuh ketulusan, ketaatan, dan penyerahan diri kepada kehendak-Nya.
Tinggal dalam Kasih Allah
Pada ayat 21, umat Tuhan diingatkan untuk memelihara diri dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan Yesus Kristus yang membawa kepada hidup yang kekal.
Kasih Allah menjadi kekuatan yang menjaga manusia agar tidak jatuh ke dalam kebencian, kesombongan, maupun perilaku yang merendahkan sesama.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.