Istanbul, Sinata.id – Seorang aktivis asal Inggris, Katy Davidson, mengungkap pengalaman penahanannya oleh pasukan Israel saat mengikuti misi kemanusiaan menuju Jalur Gaza.
Davidson merupakan bagian dari Global Sumud Flotilla, yang berupaya menyalurkan bantuan ke wilayah yang selama ini berada di bawah blokade Israel.
Dalam keterangannya kepada Anadolu Agency di Istanbul, Davidson menceritakan momen menegangkan saat kapal kecil yang ia tumpangi bersama lima aktivis lainnya dicegat di perairan internasional.
“Kami mengalami pencegatan yang cukup menakutkan,” ujarnya, dikutip Senin (4/5/2026).
Ia menggambarkan kehadiran drone dengan sorotan lampu terang yang mengarah ke kapal mereka, disusul sebuah fregat besar yang mendekat.
Davidson mengaku sempat berharap mereka berhasil lolos setelah kapal pertama menjauh. Namun, harapan itu sirna ketika kapal lain muncul dari belakang.
“Kami hanya berjarak empat hari perjalanan dari Italia, dari Sisilia. Kami tidak menduganya,” katanya. Dugaan Perlakuan Tidak Manusiawi Davidson menyebut perlakuan awal di atas kapal masih tergolong tegas namun layak. Namun situasi berubah drastis setelah mereka dipindahkan ke fasilitas penahanan.
“Begitu kami sampai di penjara terapung, kami dibawa dengan perahu karet, dan mereka memperlakukan kami seperti binatang,” ujarnya.
Ia menggambarkan para tahanan ditempatkan di kontainer pengiriman yang dikelilingi kawat berduri dengan penjagaan bersenjata.
Kondisi disebut sangat padat, dengan lebih dari 60 orang dalam satu kontainer berukuran 40 kaki, sementara total tahanan mencapai 181 orang.
Para tahanan, lanjutnya, hanya diberi roti dan air, serta harus tidur di atas kasur busa yang menyerap air.
Ia juga mengklaim penjaga kerap bersikap kasar, agresif, dan manipulatif.
Davidson juga menyoroti kondisi dua aktivis lain, termasuk Saif Abu Keshek yang memiliki identitas Palestina.
“Kami tahu betapa rentannya warga Palestina di tangan Israel,” katanya.
Kelompok tersebut bahkan sempat menolak meninggalkan kapal sebelum memastikan keselamatan kedua aktivis tersebut.
Pada akhirnya, mereka diberi pilihan untuk meninggalkan wilayah tersebut atau dipindahkan ke penjara di Israel. Kronologi dan Misi Kemanusiaan Insiden pencegatan terjadi pada Kamis di dekat sebuah pulau Yunani, sekitar 600 mil laut dari tujuan akhir mereka, Gaza.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.